Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Wednesday, May 9, 2012

LAMPION : SAAT HARAPAN TERBANG SETINGGI LANGIT


Akhir minggu kemarin akhirnya pikiran saya benar-benar teracuni perayaan Waisak di Borobudur. Iya, pikiran yang sudah tercemar itu akhirnya melewati ambang batas kadar polusi juga. Berawal dari bujukan seorang teman yang mengajak mengunjungi Yogyakarta, kemudian dilapisi dengan rencana beberapa orang lainnya yang kebetulan ingin pula pergi ke sana. Akhirnya jadilah kami, sekira 16 orang, yang berasal dari daerah yang berbeda berkumpul di kota Gudeg untuk melewati perayaan Waisak bersama. 

Perayaan Waisak tahun 2556 berlangsung selama 4 hari. Di mulai dari Pindapata, Pengambilan air, Pengambilan api dan di tutup dengan Upacara di Candi Borobudur dengan penerbangan lampion sebagai acara puncaknya.  Nah, upacara penutupan di candi Borobudur, terutama festival Lampion, inilah yang benar-benar kami tunggu. Pada awalnya, kami berencana mengikuti prosesi sejak di Candi Mendut. Namun dengan beberapa pertimbangan, salah satunya ingin menjaga kekhusukan ibadah/meditasi umat Budha disana, maka kami memutuskan untuk langsung menuju Borobudur. Di sana kami menunggu kedatangan rombongan. Saat akhirnya mereka tiba, entah mengapa rasa haru tiba-tiba menyeruak. Semua terasa begitu agung. Di bawah guyuran hujan, sekitar 160 bikhu dan jemaat lainnya yang berasal dari berbagai aliran Budha melakukan pawai sekira 3 km dari candi Mendut ke Borobudur sebagai bagian dari prosesi Waisak. Bahkan bikhu yang berasal dari Thailand,Nepal, dan Bhutan pun ada. Barisan bikhu dan bikhuni serta umat Budha terlihat berjalan dengan mengucap doa. Mereka berjalan sembari membawa bunga sedap malam. Bahkan, untuk memeriahkan prosesi tersebut, beberapa kesenian tradisional, seperti topeng ireng dan Reog Ponorogo juga ikut serta.
Prosesi puncak dilakukan di candi Borobudur sekira lepas jam 18.00 WIB. Dimulai dengan acara Pradaksina dan akhirnya pelepasan lampion. Saya, teman-teman, dan ribuan orang lainnya bergabung dengan umat Budha  menyimak rangkaian doa dan ceramah. Meskipun sejujurnya saya tidak mengerti dan lebh banyak terkantuk-kantuk. Sekira pukul 22.00, WIB ritual doa dan ceramah berakhir. Bulan yang tadinya malu-malu tertutup awan, tiba-tiba muncul dengan bentuk yang bulat. Ya, fullmoon over Borobudur temple. And it was beautiful. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi mengelilingi bagian luar candi Borobudur sebanyak 3 kali. Kami tentu saja ingin sekali ikut serta. Setelah berjuang mendapatkan lampion dan lilin, bersama-sama kami mengikuti rombongan memasuki kawasan candi yang dijaga ketat. Beruntung, karena setelah kami masuk, akses masuk ditutup untuk menjaga kekhusukkan prosesi. Membawa lilin sebagai penerangan, dengan tertib kami mengikuti rombongan. Terus terang, kembali bulu kuduk saya berdiri. Suasana syahdu terasa kental, terlebih diiringi dengan kidung doa. Kami hanya mengelilingi candi sebanyak satu kali, lalu meletakkan lilin di atas semacam alas yang dibentangkan di tanah. Jangan salah sangka, yang saya lakukan tidak lebih dari menghormati prosesi yang sedang terjadi. Meskipun rasa takjub terbentuk dari magisnya suasana yang terbangun.

full moon over Borobudur Temple

Akhirnya, acara pelepasan lampion tiba, diawali dengan pelepasan lampion oleh para bikhu di altar. Saat lampion pertama diterbangkan, semua kepala mendongak ke arah langit dan seperti dikomando, bersorak. Gaduh yang mencampurkan perasaan senang dan haru. Langit yang gelap semerta disinari oleh lampion yang semakin membumbung tinggi. Itu adalah harapan. Yang bisa menerangi bahkan keadaan yang tergelap sekalipun. Filosofis. 

Setelah pelepasan lampion oleh para bikhu utama, kami dipersilahkan untuk menyalakan lampion kami masing-masing. Kelompok kami memiliki 4 lampion yang bergantian kami terbangkan. Semua terlihat tampak mudah, kita hanya perlu membakar bantalan dan kemudian lampion akan terbang. Tapi apakah benar semudah itu? Saat sumbu lampion pertama dibakar, sempat khawatir apakah lampion kami akan berhasil terbang tinggi? Pada kenyataannya tidak. Semua butuh perencanaan. Ya, lampion sebagai lambang harapan harus diterbangkan dengan proses penuh pertimbangan. Kami harus memastikan bahwa api yang membakar bantalan lampion cukup menjadi bahan bakar, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Kertas lampion harus benar-benar dikembangkan agar bisa membumbung dengan sempurna. Bahkan waktu untuk melepaskan lampion pun harus diperthitungkan. Sama seperti harapan. Ia butuh bahan bakar yang mampu menyulut semangat, perencanaan yang matang, dan timing yang tepat. Dan kunci utama, jangan ragu saat akan menerbangkannya. 

Lampion pertama kami berhasil membumbung tinggi, dilanjutkan dengan lampion kedua dan ketiga. Saya tetap merasakan sensasi yang sama. Saya rasa semua yang ada di situ pun begitu. Kami kembali menjadi kanak-kanak yang berbahagia, penuh semangat, bahu membahu untuk saling mendukung dalam menerbangkan harapan. Saling berdoa dan mengaminkan. Sungguh benar-benar suasana kebersamaan yang hangat. 

Tiba pada lampion terakhir. Lampion yang ditulisi harapan dari seorang teman yang juga mewakili harapan kami semua. "Bahagia Tanpa Jeda. Tuhan, Berikan Aku Kekuatan Untuk Melihat Cahaya Kembali." Sebisa mungkin kami semua memegang pinggir lampion, sebagian mengabadikan, dan sebagian membantu proses pembakaran. Ini lampion kami semua. Ini adalah lambang harapan kami semua. Bahagia tanpa jeda. Meski kami tahu bahwa itu adalah harapan yang tampak sempurna, tapi intinya kami berharap kami masih tetap memetik makna positif dari setiap proses yang kami lalui dan apapun situasi yang akan kami hadapi. Sambil menunggu proses pembakaran, kami semua mengambil waktu untuk berdoa. Begitu pula saya. Doa kebahagiaan orangtua yang utama, dan doa lainnya. Terus terang, saat bersama-sama mengucapkan, “Amin,” rasanya ingin menangis bahagia. Ini mengharukan.

Entah kenapa untuk lampion terakhir ini kekhawatiran lebih besar. Rasanya ia belum siap diterbangkan. Kami bersama-sama berusaha memperbaiki bentuk lampion yang tampak belum sepenuhnya terisi udara. Begitu akhirnya lampion terbang, kekhawatiran semakin tebal. Ia tidak terbang ke atas, melainkan ke samping kearah pohon di sisi kanan. Ia tidak bergabung dengan lampion lainnya. Apakah ia akan menabrak pohon dan terbakar? Apakah perjalanannya menerangi langit hanya sesaat saja? Kami sama-sama berharap ia dapat terbang lebih tinggi.
Serentak kami bersorak. Sesaat sebelum menabrak pohon, lampion kami tiba-tiba membumbung tinggi ke langit. Seperti mendapatkan energi tambahan yang entah datang dari mana. Seperti ia tahu bahwa pohon itu adalah hambatan yang harus ia lalui agar bisa bertahan. Seperti ia tahu bahwa usahanya harus lebih ditingkatkan agar bisa kembali mengarungi langit. Dan kami semua bersorak, karena akhirnya lampion kami menjadi lampion paling terang yang ada di langit. Ia terbang semakin tinggi, tinggi, dan tinggi. Membawa harapan kami semua. Tanpa kami tahu kapan dan di mana lampion itu akan mati dan terjatuh. Tanpa tahu siapa yang akan menemukan harapan kami yang tertulis di kertas lampion tersebut.

Ya, ini adalah bahagia kami semua. Bahagia tanpa jeda. 

Our lampion, the brightest in the sky

Tonight we are so young
So let’s set te sky on fire
We can go brighter than the sun

Terima kasih teman-teman:
@lionychan - Alfa the magnificent driver - @omemdisini - @oppsyshanty - @MungareMike - @naminadini - @SutradaraTop - @JiaEffendie - @agastiazirtaf - @mmychaan - @tyazmaniandevil - @__aih – Nunu – @ukakuiki - @ellavaniea  - @rairahmanindra 

Monday, April 23, 2012

ONE DAY - Matisyahu Feat Akon



Despite the issue about race, religion and nationality, this song were "created" in order to bring people, not separate us. It promotes peace, love and compassion for all, nothing less. We are all human, we all feel, have family, have lost and loved. This song truly speaks for all, beyond all borders and beliefs.

*
Sometimes I lay under the moon
And I thank God I'm breathin'
Then I pray don't take me soon
'Cause I am here for a reason

Sometimes in my tears I drown
But I never let it get me down
So when negativity surrounds
I know someday it'll all turn around because

All my life I been waitin' for
I been prayin' for, for the people to say
That we don't want to fight no more
They'll be no more wars
And our children will play, one day

It's not about win or lose 'cause we all lose
When they feed on the souls of the innocent blood
Drenched pavement keep on movin'
Though the waters stay ragin'


And in this life you may lose your way
It might drive you crazy
But don't let it phase you, no way

Sometimes in my tears I drown
But I never let it get me down
So when negativity surrounds
I know someday it'll all turn around because

All my life I been waitin' for
I been prayin' for, for the people to say
That we don't want to fight no more
They'll be no more wars
And our children will play, one day

One day this all will change
Treat people the same
Stop with the violence down with the hate
One day we'll all be free and proud
To be under the same sun
Singing songs of freedom like

*

Sunday, April 1, 2012

SOPHIE'S WORLD


One of my best pal introduced me to Sophie's World in about 1998. And i loved it so much. Sophie’s World is a book quite unlike anything I’ve ever read before. It’s such a guide to the history of philosophy. I studied Psychology and Philosophy too, and this book helped me a lot to understand those tough major.

My 1st Sophie's World : Indonesian version

The story around, it's absolutely enchanting though. And the twist, well, I didn’t really see coming and it blew my mind! I would never suggest you to skip every detail in this book. Me myself read this book over and over, to help me figure it out. And Gaarder presents philosophy in a clear, cogent way, using Sophie's and Hilde's experiences to illustrate his points.

In this book, Jostein Gaarder presents a very unique philosophy lesson. As he used lego as the cleverest game ever, the magician's hat with rabbit in it, and others popular philosophy sciences in the world. The language that used in this 'philosophy book' relatively easy to digest, so the reader would feel more like "I was reading a novel" instead of studying philosophy. Therefore, for you who do not love philosophy, you might be able to enjoy the storyline that unpredictable by the end of the story. I really really love to read a history of philosophy. And this book explaines a story of philosophy so wonderfull. It contains an amazing twist. Believe me.

My 2nd Sophie's World : english version

In 1999 Sophie's World was adapted into a Norwegian movie by screenwriter Petter Skavlan. It was not widely released outside of Norway. And i am blessed i could watched the DVD with Germany subtitles. Though it's not as impressive as the book, but still i enjoyed the visualization. 

Sophie's World movie poster

Love it.

Sunday, March 11, 2012

LONG GONE AND MOVED ON


A song from The Script, the sequel to BREAKEVEN. This is the perfect break-up song. Moving on is one of the hardest thing to do especially when you have already made plans and imagined forever with that person. The words "still wear the scars like it was yesterday" shows how the pain is still intense and real. This song is better than therapy that push you to start thinking otherwise and realize that you're better off without that person and start loving yourself again. The video is taken from 500 Days of Summer.

When's the day you start again
And when the hell does you'll get over it begin
I'm looking hard in the mirror
But I don't fit my skin
It's too much to take
It's too hard to break me
From the cell I'm in

Oh from this moment on
I'm changing the way I feel yeah
From this moment on
It's time to get real

Cause I still don't know how to act
Don't know what to say
Still wear the scars like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone
But I still don't know where to start, still finding my way
Still talk about you like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone, you moved on

So how'd you pick the pieces up yeah
I'm barely used to saying me instead of us
The elephant in the room keeps scaring off the guests
It gets under my skin to see you with him
And it's not me that you're with

Oh from this moment on
I'm changing the way I feel yeah
From this moment on
It's time to get real

Cause I still don't know how to act
Don't know what to say
Still wear the scars like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone
But I still don't know where to start, still finding my way
Still talk about you like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone, you moved on

No I can't keep thinking that you're coming back
No
Cause I got no business knowing where you're at
No
And it's gonna be hard yeah
Cause I have to wanna heal yeah
And it's gonna be hard yeah
The way I feel that I have to get real

I still don't know how to act
Don't know what to say
Still wear the scars like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone
But I still don't know where to start, still finding my way
Still talk about you like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone, you moved on

But you're long gone, you moved on
Eh eh, oh oh
eh eh, oh oh
But you're long gone, you moved on

Tuesday, February 28, 2012

BLOOD FOR LIFE

Semua berawal dari twit  dan  di pertengahan bulan Januari 2012 yang mengabarkan bahwa akan ada acara Donor Darah dalam skala besar. Wah, sontak saya kegirangan. Ya, rasanya sudah hampir 1 tahun saya tidak donor darah. Bukan karena tidak mau atau tidak sempat, namun dalam waktu 3 bulan, dalam 2 kali kesempatan saya selalu 'tertolak' dengan alasan tekanan darah atau Hb yang tidak memenuhi syarat. Maklumlah, saya termasuk orang yang memiliki tekanan darah yang rendah, diperparah dengan hobi begadang hampir setiap malam. Di kesempatan terakhir (Desember 2011) malah lebih tragis, semalamam saya tidak tidur dan paginya hanya 'sarapan' kopi. Nekat? Ya! Dan berujung pada 'pengusiran secara halus' oleh petugas donor darah-nya. Hehe...

So, begitu ada berita gembira ini, tanpa pikir panjang aku langsung mencari-cari informasi lebih lanjut dengan membuka situs http://bisa-foundation.or.id Bisa Foundation ini  adalah organisasi yang berbasis komunitas yang didedikasikan "dari dan untuk penyandang disabilitas visual" untuk meningkatkan kepercayaan diri, penyesuaian diri, kemandirian dan meningkatkan kualitas hidup para penyandang disabilitas visual. Organisasi ini berusaha memfasilitasi para penyandang disabilitas visual untuk menghadapi ketidakpastian, rasa takut dan tantangan yang dihadapi saat mengalami hilangnya kemampuan penglihatan. Keren banget kan? Amazing!

Berdasarkan informasi, ini adalah kegiatan Donor Darah untuk kedua kalinya yang diselenggarakan BISA Foundation bersama KSR PMI Unit Unpas dan YKDKsj (Yayasan Kesetiakawanan dan Keperdulian Sosial Jakarta). Dengan mengusung tema "Seribu Labu Darah Menyambung Nafas Negeriku" rencananya kegiatan ini akan dilakukan selama 2 hari berturut-turut di 2 tempat di Bandung (21-22 Februari 2012). Kegiatan ini terbuka untuk umum dan juga para penyandang disabilitas di Kota Bandung dan sekitarnya. Untuk mempermudah proses administrasi, para calon pendonor dianjurkan mendaftar terlebih dahulu via sms, email, atau melalui form pendonor darah yang sudah tersedia di http://bisa-foundation.or.id
Poster Kegiatan Donor Darah yang di-share oleh via FB
Dengan mempertimbangkan lokasi, maka saya dan (Nuri) memilih hari Rabu, 22 Februari 2012 untuk mendonorkan darah. Ini adalah pengalaman ke-7 bagi saya dan pertama bagi (Nuri). Sampai di sana, kita mendaftar di pelataran gedung.


Setelah itu kita melakukan registrasi di lantai 2, kami menuju lantai 3 untuk mengantri giliran masuk ke ruangan. Begitu banyak teman yang menunggu sampai luar gedung maupun yang menunggu giliran di dalam ruangan lantai 3. Wah, merinding deh melihat antusiasme yang begitu besarnya. Bayangkan, bahkan para penyandang disabilitas pun ternyata banyak yang tergerak hatinya untuk menyumbang! Dan mereka difasilitasi transportasinya untuk bisa mencapai spot. Keren! Sambil mendaftar dan menunggu, para calon pendonor disuguhi oleh "hiburan" berupa nyanyian di pelataran gedung. 



Prosedur pertama seperti biasa, cek timbangan! Nah, untuk mendonorkan darah ini memang ada berat badan minimal, yaitu 47 kg. Saya? Please, jangan tanya. Pokoknya buat yang ini saya mah pasti lolos :))) Nah selanjutnya adalah tekanan darah. Mulai deg-degan lagi. Alhamdulillah lolos, 130/90 (syarat: 120-140/80-100). Kemudian masuk ke kadar Hb. Mulai deh mules lagi. Yang terakhir saya tidak lolos, soalnya. Nah, setelah melihat bahwa kadar Hb saya 15,4 (minimal 12,5) sontak saya kegirangan. Terlebih Nuri juga berhasil lolos dan bisa mendonorkan darahnya untuk yang pertama kali.

Saya dan Nuri setelah diambil sampel darah

Nuri memang hebat, meskipun ini pengalaman pertama, namun tidak tampak ketegangan di wajahnya. Meskipun ada beberapa pendonor yang pingsan, namun Nuri tetap optimis dia bisa. Sedikit tips untuk bisa lolos mendonorkan darah selain kesehatan yang prima, kita harus tidur yang cukup minimal 5 jam pada malam sebelumnya. Dan pastikan sudah makan supaya cukup energi. Nuri mendapat kesempatan lebih dahulu dibanding saya, jadi saya bisa mengambil beberapa gambarnya. 

Nuri sesaat setelah jarum menusuk vena-nya
Bahkan, Nuri sempat-sempatnya berakting dengan wajah sedih.




Sekira 5 menit kemudian saya menyusul diambil darahnya. Mungkin karena sudah terbiasa dan vena saya memang besar, maka aliran darah yang mengalir menuju labu sangat sangat lancar, dan saya selesai terlebih dahulu dibandingkan pendonor lainnya. Gak enaknya, jadi gak ada yang motoin saya deh. Terpaksa foto sendiri...
Tangan Popeye :))

Setelah selesai proses pengambilan darah, kami mengambil kartu di meja panitia. Guess what? Kami mendapatkan satu tas berisi Snack, T-Shirt, Tas, Topi, Ballpoit, dan Voucher pulsa Rp. 20.000, serta satu kupon door prize. Wooowww, jadi malu :))) Padahal terus terang saya dan Nuri tidak mengharapkan apresiasi dalam bentuk materi. Karena bagi kami, bisa sedikit berbagi apa yang kami mampu untuk orang lain, itu sudah merupakan anugerah tak terhingga. Serius! Bukankah memberi itu lebih mulia daripada menerima. Dan lebih bahagia lagi setelah bertanya pada petugas, untuk hari itu saja sudah berhasil terkumpul lebih dari 700 labu. Bayangkan berapa banyak labu yang berhasil disumbangkan dalam 2 hari pelaksanaan? Berapa banyak nyawa yang bisa tertolong? Subhanallah...

Khusus untuk donor darah ini, banyak sekali manfaat yang saya dan Nuri rasakan. Selain kita bisa mengecek kesehatan kita secara reguler, kita pun dapat menolong/menyelamatkan 3 orang pasien yang berbeda setiap kali mendonorkan darah kita. Dan melalui darah, kita dapat menyelamatkan jiwa orang lain secara langsung. And you know what? Pendonor yang secara teratur mendonorkan darah (setiap 3 bulan) akan menurunkan resiko terkena penyakit  Jantung sebesar 30% (British Jounal Heart) seperti serangan Jantung Koroner dan Stroke.

Buat saya pribadi, mendonorkan darah seperti semacam detox gratisan. Percaya deh, setelah mendonorkan darah badan kita terasa sangat segar. Buat kamu yang memenuhi syarat kesehatan untuk mendonorkan darah, kamu mesti coba.Nuri saja sampai ketagihan dan ingin mencoba lagi. So, buat BISA Foundation atau siapapun yang berencana membuat acara serupa ini, count us in, ya.... :)

At the end.... Well done BISA Foundation, KSR PMI Unit Unpas, dan YKDKsj. Dan terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk sedikit berbuat bagi orang lain.

 

Tuesday, March 1, 2011

THE BOY IN THE STRIPPED PAJAMAS

Childhood is measured out by sounds and smeels and sights, before the dark hour of reason grows. 
John Betntjemen


Quote pembuka yang mengawali film The Boy in The Stripped Pajamas (TBTSP). Berhubung sudah baca resensi bukunya (walaupun sayangnya belum dapat kesempatan membaca keseluruhan isi buku), saya jadi bisa membayangkan kira2 gambaran film ini seperti apa. Latar belakang kehidupan di salah satu kamp Nazi yang dikemas dalam ‘dunia anak’ sedikit banyak membuat saya kembali menggali ingatan tentang film Life is Beautiful (LIB).  Visualisasi awal film cukup membuat bayangan awal saya terkuatkan (awal pemandangan indah, ¾ bagian film pemandangannya ‘suram’). Setting pemandangan yang menakjubkan, kehidupan yang nampak normal, anak-anak bermain2 di jalanan, riang gembira seperti yang seharusnya. Sama seperti LIB, dunia anak digambarkan dengan indah. Mungkin bedanya, yang satu menyoroti ras Aria, dan yang satu Yahudi. Dan alih-alih di Itali, film TBTSP mengambil setting di Berlin dan (sepertinya) Hungaria.  Ceritanya mengenai ‘kepolosan’ Bruno, anak seorang Komandan Jerman. Ia sangat senang bereksplorasi dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Promosi yang didapat ayahnya mengharuskan ia pindah melintasi negara ke sebuah pedesaan yang tampak sunyi. Hal yang membuatnya bosan setengah mati. Jiwa petualang membawanya pada sebuah ‘pertanian’ yang terletak di belakang rumahnya. Walaupun ia menganggap orang2 di pertanian tersebut aneh2 (karena tampak kuyu dan selalu memakai piyama), namun ia mendapatkan teman yang memang ia butuhkan, yaitu Shmuel.  Persahabatan ‘rahasia’ mereka terus berlanjut. Dan selama itu, Bruno selalu menganggap hidup di ‘pertanian’ seperti Shmuel sepertiya mengasyikkan, karena bisa bermain setiap saat (sama saja seperti image yang ingin dibentuk sang ayah pada anaknya di LIB). Sampai pada satu waktu ia mengetahui kebenaran bahwa itu adalah kamp buat Yahudi, yang merupakan musuh mereka dan seharusnya dijauhi. Namun, seperti quote pembuka, Bruno tidak memahami apa yang terjadi dan alasan yang melatarbelakangi. Ia tetap berteman dengan Shmuel dan membawa pertemanan itu ke level yang lebih tinggi. Namun dunia anak yang polos dan begitu murni terkadang tidak sejalan dengan kenyataan yang sebenarnya dibentuk oleh orang dewasa untuk dilegalkan terjadi. Ke-naifan Bruno untuk membantu mencari ayah Shmuel yang hilang di dalam kamp (yang pada kenyataannya sudah menjadi abu dan asap di cerobong pembantaian) malah membawanya pada pembuktian yang nyata ke hadapan orang dewasa (dalam hal ini orangtua dan pasukannya) bahwa apa yang sedang terjadi adalah hal yang seharusnya dengan sadar bisa dihindari. Walaupun inti cerita antara kedua film hampir sama, namun masing-masing memiliki sisi yang berbeda. Jika pada LIB, mudah saja bagi sang ayah (terutama) untuk melindungi anak dari mengetahui situasi sebenarnya karena usia anak yang memang masih balita, pada TBTSP sandiwara seperti itu tidak mempan terjadi. Walaupun sang ibu sudah berusaha untuk menghalangi Bruno, namun pada akhirnya ia tahu kenyataan (walau tidak sepenuhnya). Jika di LIB banyak sekali bittersweet-nya dan kental humornya (karena memang cerita menuntut begitu), di TBTSP jangan harapkan itu terjadi. Termehek-mehek deh lihat akhirnya duh(bagian termehek2nya sih sama aja dengan Life Is Beautifull)  
  
PS:    
  • Akting polos dan wajah lugu pemeran Shmuel bikin jatuh hati
  • Seneng denger lagu kebangsaan Jerman versi piano asli, biasanya denger kalo pembalap atau kesebelasan jerman menang pertandingan doang haha.
  • Music composernya James Horner (penting gak ya? Gak tau deh, tapi suka aja) 
 XOXO“Pencinta film tentang kehidupan”