Showing posts with label Just A Thought. Show all posts
Showing posts with label Just A Thought. Show all posts

Monday, September 2, 2013

The Alter : On Love



Kamu layak mendapatkan cinta yang rela mengambil risiko atas apapun demi dirimu.
Atas apapun?
Atas apapun.
Termasuk kebahagiaannya?
Dia tak akan menggerutu. Karena kebahagiaannya berasal dari kebahagiaanmu.
Termasuk hidupnya?
Dia akan setuju. Karena hidupnya telah ia serahkan untuk berjuang demi kamu.
Bullshit.
Apanya?
Apa yang kamu katakan. Nonsense.
Tidak.
Unsinn!!!
Ah, kau bermain-main dengan cinta sejati yang sebenar-benarnya ada.
Hahaha… Lalu dimana dia sekarang? Bersembunyi dan tidak ingin ditemukan?
Tidak, dia tidak bersembunyi. Tetapi disembunyikan. Oleh mereka yang menolak kenyataan bahwa dia sebenarnya ada. Di sini, di setiap hati.
Apa maksudmu?
Bukalah hatimu. Sekali lagi. Kau tak akan pernah tahu cinta sebenar-benarnya itu ada ketika kau menolak untuk mencoba hanya karena pernah tersakiti.
Aku lelah.
Lelah bukan berarti menyerah.
Aku tidak. Menyerah hanya untuk pengecut.
Begitu pula mereka yang bersembunyi. Dan menyembunyikan cinta.
Lalu aku harus bagaimana?
Kamu tahu harus bagaimana.
Aku harus mengambil risiko?
Tentu saja. Bukankah itu jawabnya? Kau akan mendapatkan cinta yang rela mengambil risiko atas apapun demi dirimu, ketika kamu sendiri mengambil risiko untuk keluar dari persembunyian dan mencari cinta yang baru.
Bisa kita akhiri perbincangan ini?
Bisa kamu akhiri petualanganmu dalam bersembunyi? Karena kesempatan punya batas waktu dalam menunggu.
Kamu tahu, aku tidak pernah tidak kalah olehmu.
Kamu tahu, aku tidak pernah meninggalkanmu. Sebodoh apapun yang kau pikirkan.
Hahah.... Sial!!!

Friday, April 19, 2013

SEGEL


Kerap, berita buruk tidak mengetuk pintu atau mengintip melalui jendela sebelum masuk.
Dengan kurang ajarnya ia akan duduk manis di sofa, meninggalkan bau tak sedap yang mungkin akan menghabiskan 7x24 jam bagimu untuk menghilangkan aromanya.

Seperti hari ini. Dengan angkuhnya ia menerobos masuk ke dalam tempat perlindunganmu. Disaat kamu sibuk menata impian dan rencana indah.

Kamu terlonjak dari tempatmu duduk. Apa yang ada di benak mendadak berhamburan. Tak sempat kamu menghalau mereka kembali masuk ke dalam kepala.

"Duduklah, akan aku sampaikan sesuatu padamu. Sebelum itu, segelas kopi tentu akan melapangkan kerongkonganku." Terkekeh ia menuntun kukunya yang panjang tajam menyusuri batang kerongkongan. Bunyi berdecit menghentak sadarmu.

Bak kerbau dicocok hidung, jemarimu mengangsurkan kopi dalam gelas kesayangan. Jemari yang menghianatimu itu adalah jemari yang sebelumnya telah menakar kopi tidak terlalu manis dengan sempurna. Kesukaanmu, kamu hidangkan si hitam kesukaanmu pada dia yang kehadirannya tak kamu sangka. Lalu kamu terpana melihatnya meneguk rakus setiap tetes. Untukmu, sama sekali tak bersisa.

Dia mencecap nikmat.
Jantungmu berdetak.
Dia menyadari kamu yang termangu menunggu.

"Begini," lamat-lamat dia berbicara. Seringai, itu yang kamu lihat menari di matanya. "Kopimu sedap. Tapi apa yang akan kusampaikan padamu tidak. Maka lebih baik kau duduk di sampingku."

Lagi-lagi kamu adalah kerbau.

Dia sampaikan apa yang harus dia sampaikan dengan bahagia. Gelak tawa terdengar sampai keluar, mengundang tanya para tetangga yang keheranan. Karena gelaknya tertimpali isak yang tak bisa kau tahan, bersahut dengan jeritan. Mereka mungkin bertanya-tanya, mengapa kamu dengan bodohnya menyambut berita suka cita dengan duka. 

Ada jeda yang cukup lama.
Kamu tak lagi ingat ke arah mana isi kepalamu berhamburan.
Sekarang bukan itu yang menjadi masalahmu. Karena kamu adalah pencipta mimpi dan harap. Semudah itu melahirkan mereka, semudah bagimu menakar kopi yang sempurna.

Untuk kedua kalinya kamu tersadar.
Setelah itu, sisa hari kamu habiskan dengan mencari cara untuk menyegel pintu dan jendela. Dan menutup semua celah di pada apa yang kau sebut rumah.

Tak kamu hiraukan suara ketukan sesudahnya. 
Sekarang giliran kamu menyeringai, merayakan kemenangan dan bersiap kembali menata impian bahagia.

Tapi kamu lupa, kabar buruk sudah duduk manis di sofa dan meninggalkan aroma. 

Sementara kabar baik tertahan di luar sana, tak kamu beri kesempatan melewati pintu dan mengintip melalui jendela.

Wednesday, February 13, 2013

That Woman Is Me

 Forget your pains in the past #love #past #katrinasclothing katrinasclothing.com


Let me tell you a story about a woman who hates a leap day on February. Please sit down. And while you enjoy my story, you can have a cup of coffee.

Today, I see a woman standing in a field of flowers among butterflies, in a plain style green dress. Her hair’s been pulled up covered with tangerine yellow hijab. She stands with a green letter from her past with the gentle summer breeze to comfort her. Still, her body’s shaking, trembling. As she reads the letter once again, i see the water start running from her eyes. All over again.

She doesn't have any idea about how could her past keep breaking her heart, even until now. She's about losing her mind. Then she hears the sound of adzan in the distance.
Out of nowhere, the peace's surrounding her mind and heart.

She knows, it has to be done. The past is over, for ever. She takes a long deep breathe. Slowly she sets her step back at her home. As she wipes the tears away, she tries to smile so no one notices her sadness. She smiles. In disguise.

Let me tell you a story about a woman who hates a leap day on February. That woman is me. One year ago.

-FIN-

Monday, February 11, 2013

Surat Undangan Istimewa

Preraphaelite Evelyn DeMorgan's Angel of Death



Kepada : Yth. Tuan yang bertugas mencabut nyawa
Perihal  : Undangan minum Kopi
Tempat : Teras belakang rumah
Urgensi : ASAP

Dengan hormat,
Tuan yang bertugas mencabut nyawa

Apa kabar Tuan? Bagaimana dengan tugas yang diembankan pada Tuan hari ini? Saya yakin jika atasan Tuan menghendaki, maka tak ada pekerjaan Tuan yang tidak berhasil, bukan? Saya pikir begitu, jikapun ada yang tidak, maka saya yakin bahwa itu juga merupakan kehendak atasan Tuan. Apakah saya benar?

Begini Tuan, maksud saya mengirimkan surat ini adalah, sesuai dengan apa yang tersurat di perihal, ingin mengundang Tuan menikmati secangkir kopi di teras belakang rumah saya. Ah, Tuan sedang mengernyitkan dahi sekarang? Apakah Tuan bertanya-tanya apa maksud yang mengundang Tuan?  Mengapa harus kopi? Mengapa di teras belakang? Mengapa rumah saya? Dan mengapa harus anda? Baiklah, saya akan menjabarkannya secara singkat. Saya tahu Tuan memiliki pekerjaan yang sangat istimewa dan teramat sangat berat, maka saya tak ingin mengorbankan waktu Tuan yang berharga lebih banyak lagi.

Singkatnya begini, ada perihal yang ingin saya tanyakan mengenai pekerjaan Tuan yang luar biasa. Saya pikir atasan Tuan mengembankan tugas ini dengan pertimbangan yang sangat matang. Mencabut kehidupan dari mahluk bernyawa bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan layaknya memilih gula-gula apa yang ingin kita lumat tak bersisa hari ini (ini analogi yang sangat buruk, sudilah Tuan mengabaikan). Nah, saya ingin mendengar dari mulut Tuan sendiri bagaimana rasanya menjalani tugas yang tak biasa ini? Apa yang Tuan rasa dan pikirkan saat mereka meregang nyawa? Lebih banyak mana Tuan, mereka yang melepaskan kehidupan mereka dengan senyuman atau dengan penyesalan?

Mengapa harus kopi? Hemmm, bagi saya kopi itu semacam ribuan batang korek api yang bisa mengganjal mata di saat saya menginginkannya untuk terbuka. Kopi juga laksana setrum yang bisa membuat sinaps dalam sel abu-abu di kepalaku menjadi lebih aktif di saat saya mengingingkannya untuk berpikir lebih cepat. Dengan pekerjaan Tuan yang sepertinya tak kenal jeda, tentu Tuan membutuhkan perangsang yang multi guna. Maka saya menawarkan segelas kopi panas untuk Tuan. Cobalah, tapi saya tidak menjamin Tuan tidak teradiksi olehnya.

Teras belakang rumah saya tidaklah luas, Tuan. Namun denyut kehidupan penghuninya lebih sontak terdengar di sana. Saya ingin Tuan menjadi bagiannya, menikmati kolam ikan yang dibuat oleh ayah saya dan bermacam tumbuhan yang ditanam olehnya. Jika Tuan beruntung, Tuan bisa menikmati kelucuan beberapa binatang peliharaan kami. Mereka semua mahluk hidup Tuan, yang pasti di suatu waktu yang tidak mereka ketahui akan mendapatkan kunjungan istimewa dari Anda dan mendapatkan kecupan kematian. Saya harap jika waktu itu tiba, mereka bisa menghadapinya dengan senyuman.

Dan mengapa harus Anda? Saya sudah menyiratkan alasannya. Namun sebenarnya ada satu agenda tersembunyi. Saya ingin menceritakan satu rahasia mengenai diri saya. Rahasia yang seharusnya aku tahu bahwa Anda mungkin sudah mendengarnya dari atasan Tuan. Rahasia bahwa saya belum siap mati detik ini. Saya berharap, Anda mau membujuk atasan Anda untuk menunda kematian saya, meskipun saya tahu tak ada yang bisa mengubahnya jika beliau menghendaki begitu. Namun ada baiknya Tuan mendengarkan alasan saya. Saya masih memiliki banyak sekali kewajiban dan mimpi yang harus dan ingin saya tuntaskan. Saya tak mungkin menyebutkan satu persatu di sini, biarlah nanti saya sampaikan secara langsung jika Tuan menerima undangan saya ini.

Bagaimana, Tuan? Saya harap Tuan sudi mempertimbangkan kedatangan Tuan ke rumah saya. Tidak perlu detik ini juga, saya tidak bisa memaksa Tuan untuk meninggalkan pekerjaan Tuan. Itu sama saya meminta Tuan untuk tidak mematuhi kewajiban, bukankah?

Tuan, sekarang sudah senja. Sebentar lagi akan datang waktu saya untuk menikmati segelas kopi. Jadi baiknya saya sudahi saja surat saya ini. Terima kasih sudah bersedia membacanya.

Hormat Saya,
yang mendamba bertemu Tuan dalam balutan senyum dan secangkir kopi hangat

Sunday, February 10, 2013

Letter to Future Husband



source pinterest

Dear Future Husband,
It’s getting easier and easier to wait. I knew you will be worth the wait when I do find you. I’m not gonna push you to marry me soon. Because I know you will propose me when I least expect it. Maybe it will happen when two of us having a sweet convo on the beach. Or while we’re waiting for the rain to stop under the canopy. I think that’s the best way for things to happen. And I think that’s more beautiful than anything else.

Dear future husband,
I pray for us almost every day. I pray that our relationship will be in harmony in every way. I want to be with you for my whole life. I wanna be the one who serve you hot coffee and sweet light kiss as your breakfast. And I hope I will soon enough. Dear you know what? Your voice saying “Good morning, Sweetheart” will be the best alarm I’ve ever had. Oh I’m so excited. I can’t wait to start this part of my life with you. But i know I just have to wait and be patient. Something I know I can do now. I’m ready when you are. I trust in God and I pray that you do too. And I thank God for giving me the patience to wait for that moment, knowing that it will one day be worth it.

Dear Future Husband,
Now listen carefully, I wanna tell you something. I choosed you. I did. And I don’t regret it even for a minute.

Love,
Your Future wife