Showing posts with label #FFHore. Show all posts
Showing posts with label #FFHore. Show all posts

Sunday, April 15, 2012

KECUP


“Jadi, kamu akan pergi sekarang?” tanyaku pada sosok di samping tempat tidurku.

Seperti sebelumnya, dikedatangan kedua kali ini ia pun tidak berlama-lama tinggal.
Dia mendaratkan kecupan di keningku. Lembut.

“Hati-hati ya, kamu. Jaga kondisimu agar cepat sembuh.” Hanya itu. Ia memegang jemariku sambil tersenyum kecil. 

Aku mengangguk. Hanya mengangguk.
Seperti biasa, dia menghipnotisku. Dengan katanya dan sentuhannya yang lembut. Kesedihan yang sangat kental menggelayuti matanya. Meski ia tersenyum. Ada apa? Apa yang ada di benaknya? Apakah ia tidak suka menemuiku? Tapi aku suka.

Aku mendesah. Lalu melanjutkan tidurku di malam buta. Nyenyak, dihiasi mimpi tentangnya. Aku tak mendengar suara keributan dari ruang sebelah, tak lama setelah ia pergi.

*

Aku menjadi begitu terobsesi. Ya, obsesi. Tak seharipun benakku luput dari merangkai imaji tentang dia. Padahal ini baru persuaan kedua. Apakah ini? Ah, tapi ini tidak semestinya!

Aku tersenyum. Kembali mengingat perjumpaan pertama kami.
Saat itu ia begitu tergesa memasuki ruanganku. Oh, akhirnya ada yang menjenguk, pekik hatiku. Namun keterkejutannya yang sangat memupuskan harapan, bahwa ia datang untuk aku.

“Maaf, sepertinya saya salah tempat,” ia berkata sambil berdiri mematung. Matanya yang sendu melumat seluruh kesadaranku. 

Aku pikir ia akan segera berbalik menuju pintu. Tidak bisa, ia harus datang untuk aku! Dan kucoba untuk menahannya, sebelum ia membalikkan badan.

“Tunggu! Bagaimana Anda tahu bahwa Anda salah tempat?” tanyaku dengan nafas memburu.

Anehnya ia tetap mematung. Tidak bergegas pergi seperti perkiraanku.
Ia mendekatiku. Dekat, hingga ia berdiri di samping tempat dudukku. Tatapannya tertumbuk pada gambar yang sedang aku buat. 

“Ada apa?” tanyaku berusaha menyembunyikan gambar tersebut. Tapi badanku yang lemah tidak bisa menolak uluran tangannya yang tampak memaksa. 

Ia meraih kertas berisi goresan jariku. Memperhatikannya. Meraba sosok dalam gambar lalu meletakkan kembali kertas itu. Begitu saja. Tidak ada perkataan apapun.

Aku heran. Terlebih saat ia meraih tanganku dan menatap tajam. Perlahan ia mendekati wajahku. Aroma tubuhnya yang harum dan desah nafasnya yang sedikit memburu begitu terasa.

“Yakinlah, semua masih baik-baik saja. Setidaknya saat ini. Sekarang bukan waktumu. Istirahatlah.”

Dan tiba-tiba, ia mengecup keningku. Aku membeku. Bahkan lama setelah ia menghilang di balik pintu.

Aku meraih gambar yang aku buat. Aku tertegun, sosok dalam gambarku itu serupa sekali dengan dia.

Sedetik kemudian aku mendengar suara tangis dari ruang sebelah.

*

Aku selalu menyukai angka 8. Dan juga 3.
Delapan adalah angka sempurna. Dan aku suka angka tiga bukan karena mereka tampak serupa. Aku hanya suka. The best come from 3, some say. Maybe.

Dan kali ini aku lebih mengharapkan angka tiga. Ya, aku tidak sabar menunggu ketiga kalinya aku bertemu dia.

Aku masih ingat perjumpaan terakhir kami. Tiba- tiba saja ia membuka pintu menjelang malam. Ia melangkah mendekati tempatku berbaring.

Lembut ia menyentuh kepalaku. “Apa rasanya?” tiba-tiba ia bertanya.

“Aku sudah terbiasa,” senyumku. Berharap tangannya tetap di kepalaku.

“Kamu hebat. Sudah berapa lama di sini?”

Aku menyebutkan sejumlah angka. Dia tersenyum.

“Buku apa yang sedang kau baca?”, matanya melirik buku yang terbuka di sampingku.
VIRGIN SUICIDE.

“Kau suka kisah seperti ini? Kompleks”, ucapnya sambil meraih buku. Tubuhnya melintasi tubuhku. Semerbak harum yang tetap sama. Tak hanya pada tubuhku, kehangatan semerta menjalari seluruh ruangan.

Sebagian tubuh kami bersinggungan. Seperti disadarkan bahwa mungkin aku merasa sakit, tiba-tiba ia menarik tubuhnya dan menatapku lekat.
“Saya senang, kamu punya banyak kegiatan yang bisa menghiburmu. Lakukanlah, selama itu tidak membuat kamu kelelahan. Maaf, saya harus pergi,” perlahan ia beranjak dari sisiku. 

“Jadi, kamu akan pergi sekarang?” Aku sungguh berharap ia akan tinggal lebih lama kali ini. Tapi tidak.
Dia tak menjawab. Hanya mendaratkan kecupan di keningku. Lembut. Dengan anggun ia menuju pintu. Meninggalkanku sendiri.

Ya, kecupan itu.
Mungkin itu yang membuat aku begitu merindunya. Bahkan saat ini, saat aku merasakan kelemahan yang sangat.

Mama sudah 2 hari ini tidur menemaniku di tempat yang sudah kuanggap rumah ini. Begitu pula Frasya. Mereka mencoba menghiburku. Tapi tetap, hanya dia yang mungkin bisa membuatku bersemangat kembali.

Aku tersenyum ke arah sangkar di meja, dua kupu-kupu yang diberikan Frasya. Akan aku tunjukkan padanya saat ia datang.

21.30. 
Badanku semakin lemah. Aku perlu kamu. Datanglah. Perlahan mataku terasa basah.

Mama memegang jariku. Frasya tetap berusaha membuatku tersenyum dengan senyumannya yang lebar. Papa sibuk berbicara dengan pria berjas putih.

Tiba-tiba aku mencium aroma yang sangat kukenal.
Dia.
Ia hanya berdiri di pintu.
Cepat hampiri aku. Aku memandangnya dengan tatapan memohon.
Ia tetap bergeming. Tangannya mengepal dengan kuat.
Kepalanya menggeleng.
Samar aku membaca gerak bibirnya, “Maafkan aku.”

Secepat kilat ia sudah berada di hadapanku. Lembut ia mendekatkan wajahnya. Bukan kehangatan yang kurasakan. Seluruh ruangan terasa begitu dingin menusuk.

“Tenanglah, ini tidak akan sakit.” Lembut ia mendaratkan kecupan. Kali ini di bibirku. Cukup lama. Dan aku suka. Ketakutan yang aku suka.

Aku merasakan tubuhku tertarik dengan ringan. Ia meraih jemariku. Perlahan tubuhku terangkat.

“Sekarang waktumu untuk ikut denganku. Siap?” tanyanya.

Aku mengangguk. Sebelum aku menengok ke bawah, dimana Mama, Papa, Frasya, dan lainnya memeluk tubuh dinginku sambil meneteskan airmata.


Angel of death.jpg

*

__story of Aqeela : Kupu-kupu yang manis__
KISAH KUPU-KUPU YANG LUCU http://auntybety.blogspot.com/2012/03/kisah-kupu-kupu-yang-lucu.html?spref=tw

Wednesday, April 11, 2012

MAAF, AKU SIBUK


“Maaf, aku sibuk,” kataku saat kau menyapa. Mengingatkanku untuk meluangkan waktu bercengkerama denganmu di tengah deadline yang menghimpit. 

Aku bertingkah seolah aku tidak punya waktu. Ya, memang begitu kan? Aku harap kamu mengerti.

*
“Tolonglah mengerti! Kamu tidak lihat aku sedang sibuk? Argghhh!” Aku berteriak padamu. Saat hasil lemburku bermalam-malam ternyata hanya dianggap sampah. 

Lihat! Lihat, bahkan mulai malam ini dipastikan aku tidak akan tidur demi membuat revisi.

*
“Selamat ya! Kapan kau merayakannya denganku?”, kamu bertanya saat presentasiku disambut dengan baik. 

“Oh, ya tentu saja. Akhirnya jerih payahku tidak sia-sia bukan? Tapi maaf, aku harus mempersiapkan diri. Yah, promosi di depan mata,” seruku berteriak kegirangan.

Aku tertawa. Yah, lucu. Buat apa aku merayakan denganmu? Ini kan hasil jerih payahku? 

Kamu diam.

*
“Gila! Kamu tahu, ini semua gila!” umpatku saat tahu rekanku yang mendapat promosi. Berkat kerja kerasku!

“Dasar penjilat!” Aku memukul kasurku dengan hebat.

“Ini tidak adil. Kamu tahu ini tidak adil! Jadi ini permainan yang kamu tawarkan? Heh, apa salahku? Katakan, apa salahku?”

Kamu diam. 

"Heh, kenapa diam? Daripada hanya diam, lebih baik kamu pergi!"

Mulai saat itu kamu tidak lagi mengusikku.

*
“Hei, kamu dimana? Jangan lari! Katakan padaku, ini semua apa?” Air mataku tumpah. Tidak hanya promosi jabatan yang gagal aku terima. Rekanku, yang sekarang menjadi atasan, mendepakku karena persaingan. 
Aku hancur. Aku meradang. 

Kamu tetap tidak ada.

*
Aku marah padamu. Ya, aku marah. Kemana kamu saat aku butuh jawaban? Kemana kamu saat aku butuh tahu apa rencanamu dibalik ini semua. Ketidakadilan macam apa yang harus aku jalani?

Satu bulan. Kamu tetap tidak tampak.

*
Aku lelah untuk marah. Mungkin karena itu pula kamu marah dan memilih untuk tidak mendengarkanku dan akhirnya pergi? 

Oke, aku mengalah.

Sekali lagi aku mencoba menghubungimu. Mencoba meredam kekecewaanku atas ketidakperdualianmu ketika aku butuh kamu.

Perlahan aku membasuh kedua wajahku. Dalam gelap aku berlutut. Aku mencoba menjamahmu sekali lagi.

Lirih, aku memanggil namamu.

“Kamu. Tolong, maafkan aku. Selama ini aku tidak berbicara dengan cara yang benar kepadamu. Aku sadar, terakhir kali kita bicara, aku sangat marah. Aku minta maaf karena sudah berteriak kepadamu, dan memintamu untuk keluar dari hidupku. Maafkan aku karena sudah mendorongmu dari diriku terlalu jauh, seakan aku tidak membutuhkanmu lagi. Pasti kau berpikir aku tidak ingin berhubungan denganmu lagi.”

Aku mendesah. Masih tidak ada jawaban dari dirimu. Apakah kamu begitu marah? Ataukah diammu karena sedang mengurai penyesalan dalam setiap kata yang aku ucapkan?

Aku tidak tahu. Tapi aku masih berharap.

“Ya. Aku terlalu merasa hebat. Aku mencoba sekuat hati menangani semua urusan hidupku. Tanpamu. Dan aku sadar bahwa mungkin saat ini aku sudah tidak sanggup lagi.”

Tak ada suara.

“Tolong, bicaralah. Marahlah padaku! Ya, aku sudah menyalahkanmu atas semua hal buruk yang terjadi padaku. Dan aku akhirnya menyerah, menyerah atas apa yang aku perjuangkan selama ini.”
“Aku lelah. Ya, aku lelah. Mungkin tak selelah kamu dalam menghadapi sikapku. Ya, aku tahu. Tolong dengarlah aku. Saat ini aku hanya ingin meminta maaf. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu kembali dalam hidupku. Tapi tolong bantu aku, karena aku tidak bisa melakukannya sendiri.”

Aku merasakan pipiku basah. Saat aku mendengar kamu menjawab.

“Anakku, mengapa kau berpikir aku marah kepadamu? Atas semua perlakuanmu kepadaku? Tidak. Sama sekali tidak. Jika kamu berpikir aku tidak perduli kepadamu, maafkan. Maafkan aku karena tidak menggapaimu saat kamu butuh aku. Tapi kamu tahu? Itu karena aku sibuk. Ya aku sibuk memberikan kesempatan kepadamu untuk menyadari bahwa sesungguhnya kamu punya kekuatan untuk melalui semua tantangan yang kau temui. Aku sibuk menunggumu untuk mengerti bahwa mungkin tidak semua berjalan sesuai apa yang kamu inginkan. Aku sibuk berharap bahwa pada satu titik kamu menyadari selalu ada hal yang bisa kamu ambil manfaatnya atas semua kejadian yang menimpa. Dan ketika aku diam tadi, aku sibuk mencari cara untuk dapat memelukmu kembali, kamu dengan dirimu yang baru, yang lebih menghargai hidupmu. Maafkan aku. Aku harap kamu mengerti.”

Oh, aku sungguh malu. Mendengar semua alasan yang kamu berikan, aku benar-benar malu. Aku tahu, seharusnya aku tidak meragukan kamu yang selalu ada untuk aku.

Aku puas menangis. Tetap dalam gelap. Tapi hatiku tidak.

Perlahan aku tersenyum. Dan berkata kepadamu.

“God, thank you. I’m so sorry for everything I’ve done. Please, hold my hand, and keep me in your arms as I live the life you have given me.”


Sunday, April 8, 2012

APA DONG (YANG MEMBUATKU TAK BISA MEMILIKIMU)?


“Apa, San? Apa yang masih membuatmu ragu? Aku pikir setelah aku melakukan ini semua, kamu bisa semakin percaya kalau aku sungguh-sungguh!” 

Aku memukul dada Sandy sekeras mungkin. Tubuhku mulai melemah.

“Maaf, Van. Meski aku sayang kamu, tapi kita sama-sama tahu bahwa…kita nggak akan bisa.” Sandy mulai melangkah mundur.

“Karena apa, San? Karena ini?” aku menunjuk sesuatu di tubuhku yang bahkan semakin membuat tangisku menjadi.

“Ya, Van. Iya. Dan aku mohon maafkan aku. Betapa keras kita berusaha, tetap tidak akan bisa.” Sandy membalikkan badannya.

Di pintu, ia berhenti sejenak. Kembali menghampiriku dengan sedikit tergesa. Ia memeluk tubuhku yang kaku. 

“Maafin aku Van. Kamu bisa bilang aku egois. Tapi ini juga aku lakukan buat keluarga aku.”

Lembut ia mengusap punggungku. Kemudian pergi. 
Dan aku tahu, ini akhirnya.

Sandy memutuskan untuk meninggalkanku. Setelah bertahun lamanya kami berjuang. Kami sama-sama tahu bahwa kami tercipta untuk melengkapi satu sama lain. Saling menjaga. Hingga akhirnya saling menyayangi. 

Dari awal sebagai teman, tumbuh rasa ingin memiliki. Meski awalnya kami saling menolak. Tapi rasa ini terlalu kuat.

Bertahun kami simpan. Dan semua orang hanya tahu bahwa kami sekedar berteman.

Sampai setahun lalu. Aku mengambil keputusan besar. Keputusan terbesar dalam hidupku. Bertransformasi menjadi aku yang lain. Demi kebahagiaan kami berdua.

Meski terkejut pada awalnya, namun Sandy bahagia. Ya, aku berharap pengorbananku tidak akan sia-sia. Doa bahwa Tuhan dan keluarga akan memaafkan dan mengerti keputusanku, tidak habis aku kirimkan. 

Tapi ini impianku. Ini kebahagiaanku. Apa salah? Apa lagi yang harus aku lakukan untuk bisa memilikinya? Bersanding dengan Sandy tanpa tanya dari semua?

Aku bahagia. Dia bahagia. Kami bahagia. Dan semua yang melihat kami tidak akan punya prasangka.

Namun setelah semua yang aku lakukan, ini akhirnya.

Ketakutan terbesarku. Hal yang tidak akan mungkin bisa aku berikan untuk Sandy, meskipun begitu keras aku berjuang.

Keturunan.

Perlahan aku memeluk album kenangan kami berdua. Yang mengukir kisah kami dari pertama berjumpa.

Sandy – Vania (2011)
Sandy – Rivan (2002)

taken from genderfork.com



Tuesday, April 3, 2012

APRIL MOP

source: wollipop.com


FRISTO 

Aku memerhatikan kalender duduk yang tergeletak di meja kamar hotelku. Tak lama lagi. Tak lama lagi sebelum semua kebenaran terkuak. 

Aku menghela napas panjang dan menatap foto-foto yang berserakan di atas kasur. Kuraih satu foto. Kubelai dengan lembut sosok yang terekam. Rayna. Cerdas. Manis. Anggun. Mereka bilang ia akan sempurna untuk berdiri di sampingku. Apa lagi yang kurang? Ya, apa lagi? 

Aku menekan satu nomor di telepon genggamku. Ramon harus kuhubungi secepatnya untuk mematangkan rencana.

“Ya, Fris? Ada apa malam-malam begini?” sahut suara yang sangat akrab di telingaku.

“1 April. Lakukan sebelum tanggal itu. Bagaimana? Bisa?” tanyaku dengan nada menuntut.

“Tentu saja. Kau tahu kau bisa mengandalkanku. Tapi apa kau yakin? Apa lagi sih yang perlu kau buktikan?”candanya.

“Haha. Tidak ada. Hanya sedikit kejutan saja. Oke, kalau ada apa-apa kau tahu harus bagaimana. Thanks, Mon.” 

“Oke. Count on me, Bro!” suara riang Ramon begitu yakin. 

Itu menenangkan. Jadi semuanya sejauh ini lancar.
Brother. Ya, saudaraku Ramon akan membantuku.

Perlahan aku membuka tirai jendela. Udara Singapura malam ini begitu panas.

*

RAMON

“Oke. Count on me, Bro!” suara riangku terasa begitu meyakinkan.
Padahal semua palsu. 

Dengan tangan gemetar aku menekan sebuah nomor. Sedikit gugup aku melonggarkan dasi yang terasa mulai mencekik. Tenang. Harus tenang.

“Ya, Sayang?” suara manjanya terdengar di ujung sana.

“Dia baru saja telepon. Menanyakan perkembangan rencananya.”

Satu teguk Don Perignon mengaliri kerongkonganku.
Terdengar suara jerit tertahan. 

“Mon, serius dia benar-benar akan melakukan itu? Dia tidak mencurigai kita, kan?” 

Aku berusaha menenangkannya.

“Bukan. Dia tidak curiga dengan kita. Dia hanya ingin memantapkan hatinya padamu. Itu saja. Kalau kita bisa memainkan semua skenario kita dengan mulus, percayalah, dia tidak akan pernah lagi melepaskanmu.”
 
“Mon, aku takut.”

“Boleh takut. Tapi jangan itu membuatmu jadi bodoh. Tenang. Kita sudah melakukan ini bertahun-tahun. Jangan kita kacaukan dalam satu hari. Sekarang istirahatlah, Sayang. Siapkan barang-barangmu. Besok kujemput. Love You.”

Pelan aku menuju wastafel. Membasuh wajah aku menengadah. Tatap mataku menghujam kaca. 

“Aku mungkin berhutang banyak hal padamu, Fris. Tapi demi Tuhan aku tidak akan melepas dia untuk membayar semua hutang budiku.”

*

RAYNA

I love you too, Sayang.” Aku melayangkan kecupan pada sosok di ujung sana sebelum mengakhiri percakapan.

Aku terlonjak kaget ketika teleponku bordering.
Dia.

“Malam, Honey. Sudah selesai meetingnya?” ceria suaraku tak berhasil menutupi detak jantung yang berdentum.

“Sudah, Sweety. Capek. Andai kamu ada di sini,” hangat suara pria di ujung sana. Aku benar-benar malu.

“Maafin aku, Honey. Tapi memang pekerjaanku begitu menumpuk. Apa kabar London? Awas ya kalau matamu jelalatan melihat bule-bule yang cantik-cantik itu,” aku tertawa manja.

“Aku yang minta maaf Sweety, sempat memaksamu ikut. Setengah bulan nggak ketemu kamu benar-benar menyiksa. Tunggu aku seminggu lagi, oke?”

“Aku juga kangen. Sepi sekali nggak ada kamu di sini. Seminggu lagi. Janji ya? Masak aku hunting perlengkapan pernikahan kita sendirian?” aku pura-pura merengek.

“Maaf ya, Sweety. Sebenarnya aku ingin Ramon yang menemanimu. Hanya dia yang aku percaya untuk menjaga kamu, hartaku yang tak ternilai. Tapi kamu tahu kan, perusahaan sangat butuh dia selama aku nggak ada.”

Tanpa sadar keringat dinginku mulai mengucur deras. Maafin aku, Fris. Kau tak tahu rencana kami.

*

FRISTO

Entah apakah Rayna bisa membaca kepalsuan dalam suaraku. Entahlah. Besok aku akan mengetahui semuanya.

Hanya Ramon yang aku beri tahu bahwa aku ada di sini menunggu mereka. Tentu saja Rayna sudah berjaga-jaga. Aku yakin itu. Dia wanita cerdas. Dia akan tahu bahwa aku menyimpan suatu rencana untuknya. Dia akan lebih berhati-hati.

Aku memejamkan mata. Suara Rayna menggema di kepalaku.

“Kita ketemu di Singapura. Fristo masih akan dinas sampai minggu pertama April. Mungkin ini kesempatan terakhir kita melepas rindu. Sebelum aku seutuhnya menjadi milik dia. Tolong, jangan kecewakan aku. Kita akan bersenang-senang di sana. Aku janji.”

Aku mengepalkan tangan.
Aku tidak pernah gagal, Rayna. Aku tidak pernah gagal.

*

RAMON

Jadi begini rencananya. Fristo meminta aku memata-matai Rayna yang ingin belanja ke Singapura. Aku yang ia percaya agar Rayna tidak kembali menemui mantan kekasihnya. Ia tidak ingin menyewa orang bayaran yang mungkin akan mengacaukan semuanya. 

Apakah Fristo benar-benar mempercayaiku? Apakah ini tipu dayanya? Bagian dari rencana yang ia buat?

Aku meraih bungkusan kecil dari laci meja. Aku harus memikirkan kemungkinan terburuk.

*

RAYNA

Aku memandangi foto kami bertiga.

Fristo dan Ramon. Dua pria yang menghiasi hidupku. Menjagaku yang hanya sebatang kara. 

Ramon, pria pertama yang aku cintai. Mungkin untuk selamanya. 

Fristo, pria yang harus aku cintai. Jika aku ingin hidupku sejahtera selamanya.

Ramon bilang ini untuk sementara. Aku tidak tahu apa artinya.

*
APRIL MOP!
Malam itu tiba-tiba Fristo sudah berada di depan meja Rayna yang baru saja akan memesan menu di restoran.

“Sayang, kamu! Kamu jahil sekali. Bukannya kamu masih di London?” teriak Rayna dengan keterkejutan yang tampak dibuat-buat.

Ah benar kata Ramon. Jadi ini kejutan yang dimaksud Fristo. Bahwa ia menyuruh Ramon membuntutiku ke Singapore untuk melihat apakah aku benar-benar sendiri. Untung Ramon sudah pergi dari sini sedari tadi, pikir Rayna menghela napas sambil memeluk Fristo.

“Maafin aku. Isn’t it the happiest April Mop?” tanya Fristo sambil mengacak rambut Rayna.

It is! Oh, I’m so happy you’re here with me now!” peluk Rayna erat.

“Ayo, aku sudah siapin makan malam romantis buat kita.”

*
Turun dari taxi, Fristo Menutup mata Rayna dengan kain dan menggandeng lembut tangannya menuju tempat rahasia yang sudah ia siapkan.

“Harum! Kita di mana ini, Sayang?” tanya Rayna.

Sayang. Dia tidak menyebutku Honey. Getir Fristo tersenyum.

Perlahan Fristo membuka kain yang mengikat mata Rayna.
Rayna terpekik.

Sebuah meja makan lengkap dengan hidangan makan malam dan buket bunga tertata rapi di kamar yang dipesan oleh Fristo. Cahaya remang menambah suasana romantis.

Perlahan Rayna mendekati meja. Tiba-tiba ia tercekat. Kakinya menabrak sesuatu yang tergeletak di lantai. Apa? Siapa?

“Ra…Ramon?” Rayna terpekik. Ia membalikkan badan dan menjerit. 
Tubuh Ramon terbujur kaku bersimbah darah di balik pintu menuju balkon.

“Fris!!!”

“April Mop, Sweety,” ucap Fristo sambil meledakkan pistol dalam genggamannya.

Fristo tertawa kecut. “Kalian pikir akan bisa membodohiku?” geramnya sambil meremas beberapa kertas di dalam saku.

Beberapa foto Ramon dan Rayna. Berpelukan mesra. Berdua. Tanpa dia.


Fristo tertawa ke arah mayat Ramon, "Kau pikir bisa mengakhiriku dengan serbuk putih itu? Bodoh!!!"

"Senjataku lebih ampuh. AKu bilang, aku tidak pernah gagal, Ramon. Tidak pernah," Fristo menatap dingin dua tubuh di depannya.

Perlahan Fristo keluar dari kamar. Anak buahnya akan mengurus semua.


Sunday, April 1, 2012

SELAMAT ULANG TAHUN, KAMU


sketch by Bety Oktarina


1 April 2012. 

3 tahun. Sore ini.
Seharusnya ia sudah masuk Playgroup. Belajar bersosialisasi dan berbagi bersama anak sebayanya. Mendengarkan guru-gurunya bercerita sambil tertawa terkekeh. 

Sekarang.   
Seharusnya ia sedang bermain di istana pasir bersama teman-temannya. Berebut menaiki jungkat jangkit dan ayunan di taman sekitar kompleks di sore hari. Atau mungkin sedang tidur setelah merengek dibuatkan susu olehku.

Seharusnya.
Dia sedang aku peluk dengan damai. Saling berbagi wangi di tengah gelungan tubuh di atas ranjang. Memaksa aku untuk menyanyikan lagu pengantar tidur siang. Dan sebuah atau beberapa boneka untuk menemani sampai ia terlelap.

Damai.
3 tahun. Anak itu. Seharusnya sedang apa ia sekarang?

*

Pagi. Nopember 2008. 

Akhirnya tonjolan dalam perutku tak lagi malu-malu menunjukkan keberadaannya.

“Sudah 4. Ini sudah 4 bulan lebih! Oh Tuhan…..” jerit Mama tak tertahankan.

Aku menangis. Tanpa suara. Aku sudah tidak sanggup. Aku hanya terpekur menatap lantai. Papa bahkan tidak sudi lagi melihatku. 

Petra memandang nanar ke arahku. Satu tangannya masih memeluk Mama. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Aku tak lebih dari sampah yang sama sekali tak pantas menjadi contoh bagi adiknya.

Papa mengepalkan tangannya. Aku tahu apa yang ia harap mampu untuk lakukan. Memukulku sekeras-kerasnya. Tapi sekali lagi, Papa hanya diam. Diam yang mampu membunuhku.

“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Padma. Tinggalkan lelaki itu. Dan enyahkan dia,” telunjuk papa tajam menusuk perutku.

“Semoga Tuhan memaafkanmu. Semoga Tuhan memaafkanku.” Dengan langkah tak lagi tenang, Papa yang berbalut seragam meninggalkan kami.

Petra membopong tubuh Mama masuk ke dalam kamar.

Dan Mbok Sur dan Pak Kijan tergopoh memapah tubuhku memasuki mobil. Aku tahu aku akan dibawa kemana.
             

*

Siang hari. Nopember 2008.

Aku menahan sakit. Sumpah, ini sakit. Bukan memikirkan aku. Tapi dia. Dia yang dipaksa untuk keluar dari tubuhku. Dia yang selama ini aku jaga. Dia yang selama ini aku sembunyikan di tempat yang ternyaman. Dia yang menjadi penguat aku bertahan. Sekarang ia menjerit. Aku bisa mendengar raungannya.

“Bunda!!! Tolong aku. Apa yang mereka lakukan dengan rumahku, Bunda? Mereka mengusir aku. Mereka berusaha menggusur aku. Aku akan dibawa kemana, Bunda? Bunda, hentikan ini. Sakit, Bunda. Sakit!”

Aku hanya menjerit. Seiring tangan kasar mengurut perutku. 
Maafkan Bunda, Nak. Maafkan.

*

Malam. Oktober 2008.

“Kamu harus bertanggung jawab, Krisna! Kita harus bertanggung jawab!” erangku memegang tangannya.

“Tanggung jawab apa, Heh???” matanya melotot ke arahku. Tidak ada lagi panggilan sayang. Tidak ada lagi tatapan mesra dari matanya.

“Ya. Kita akan sama-sama menghadap Papa. Kita akan bicara baik-baik,” bujukku meyakinkannya.

“Sialan! Harusnya kamu minum pil yang aku berikan bulan lalu. Nggak akan begini jadinya. Kamu pikir aku bodoh? Mengakui kepada Papamu sama aja bunuh diri!”

“Krisna! Itu sama saja dosa,” isakku.

“Dosa? Lalu yang kita lakukan waktu itu apa? Perbuatan suci? Heh, dengar ya. Aku nggak mau jadi orang tolol. Lagian nggak ada bukti kan kalau itu anakku?” tertawa Krisna meninggalkanku. 

"Aku masih punya mimpi yang lebih bagus daripada memiliki anak si usia muda, Padma. Ingat itu!" teriaknya.

Dan Krisna tak pernah kembali lagi.

*

April 2012.

“Selamat ulang tahun kamu.” 

Pedih aku membayangkan dirinya. Seperti apa rupanya? Apakah dia lelaki atau perempuan. Apakah wajahnya seelok Krisna? 

Rasa sesak tetiba menyergap. Aku bahkan tidak tahu dimana kuburnya.

Aku mengelus perutku.
Samar terdengar suara mendesis.

“Bunda, aku senang tinggal di sini, ini rumah yang nyaman sekali. Terima kasih atas kado ulang tahunnya. Terima kasih, Bunda.”

*