Showing posts with label 100 Kata. Show all posts
Showing posts with label 100 Kata. Show all posts

Tuesday, November 12, 2013

Kelahiran Agung



Beberapa hari ini aku demam. Suhuku tinggi, namun aku menggigil. Hampir sepanjang hari aku terjaga. Menggerakkan badan ke segala arah, tak jua kutemukan posisi nyaman. 
“Wajar, kau sedang mengandung.” Bulan menenangkan.
“Tapi ini sangat menyiksa!” Aku mengaduh.
“Coba minum ini. Mungkin bisa meredakan demammu.” Bintang, adik kembar Bulan, mengangsurkan puyer. 
Belum juga aku sempat meminumnya, perutku mendadak sakit sekali. 
“Ah, mungkin sudah waktumu melahirkan!” Mereka heboh. 
Kontraksi berlangsung semakin sering dan cepat. Sesuatu memaksa keluar dari perutku. Rasanya perutku akan meledak. Tak tahan, aku menjerit. 
“Akh!!!”
Lalu silau. 
--
Terdengar riuh dari bawah langit.
“Kiamat! Kiamat! Lihat, Matahari jadi dua!” 


***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata


Monday, November 11, 2013

Mantra



Mantranya sederhana. Tapi di antara semua yang kubutuhkan, mantra itulah senjata pamungkasnya. Tanpanya mungkin persiapan yang kulakukan akan sia-sia. Seperti tahun lalu, tahun yang entah kapan dulu.
Kali ini aku membuat dua persiapan, untuk orang yang berbeda. Mantra yang sama untuk keduanya. Meski repotnya berlipat, tak mengapa.  
“Yakin sudah kau masukkan semua?” Nenek duduk di sampingku.
“Sudah, Nek. Foto, surat-surat, barang kenangan mereka berdua. Tinggal dikirimkan,” aku menjawab sambil menatap dua alamat berbeda.
“Mantranya?”
Aku mengerling, mengingat apa yang sudah kutuliskan dalam dua surat.

Ayah, Bunda. Lebaran kali ini aku ingin merasakan damai dalam dekap kalian. Pulanglah.
Semoga sihirnya bekerja.

--

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Sunday, November 10, 2013

And Cut!




Aku bisa menjadi siapapun, kapanpun. Dalam hitungan menit aku bisa berganti peran, tanpa paksaan. Akulah pelakon. Akulah produser. Akulah sutradara.

Minggu lalu aku menjadi Bonaparte. Dua hari kemudian aku menjadi Genghis Khan. Kemarin aku menjadi Chopin. Tak membutuhkan banyak properti. Imajiku teramat liar untuk membuat semua tampak nyata.

Hari ini spesial, aku menjadi Hitler. Ya, Hitler yang itu. Luar biasa bukan? Kau harus tahu rencanaku untuk adegan Auschwitz. Panggung kusulap jadi ladang pembantaian. Mengagumkan!

Ayah tiriku dan selingkuhannya menjadi peran pembantu. Akting mereka sungguh nyata. Menangis, melolong, terkencing-kencing.

Sayang, kau melewatkan adegan terbaik. Saat api Auschwitz mulai melumat tubuh mereka. 


--

Diikutsertakan dalam #FF100Kata


Saturday, November 9, 2013

JODOH DALAM AMPAS KOPI



“Lo bisa tahu jodoh lo melalui ampas kopi.” Jarod, sahabatku, menghampiri sembari mengangsurkan secangkir kopi hitam yang mengepul. 

   “How come? Yang gue tahu, ampas kopi bisa bercerita garis nasib seseorang.”

   “Dare to know? Drink it slowly.Jarod menatapku sungguh-sungguh.

Aku mengernyit. Tanpa disuruh, aku pasti meminumnya. Jarod tahu aku menyukai kopi. Melihatnya begitu serius, aku penasaran. 

   “Easy.” Jarod melihat ketidaksabaranku menyeruput.

Perlahan kopi dalam cangkir surut. Sebentar lagi aku akan melihat ampasnya.

Aku tercekat, ada benda selain ampas kopi menyentuh bibirku. Kujauhkan cangkir dan melihat ke dalamnya. Sesuatu tertahan di sana. Berbentuk lingkaran seukuran jari berwarna kemilau. 

  “Marry me, Hans?”

---

Diikutsertakan dalam #FF100Kata
 


Friday, November 8, 2013

Mereka Memutuskan Aku Yang Selanjutnya



 “Ia milikku satu-satunya.”
“Kami pernah berkorban. Sekarang giliranmu atau kita semua mati!”

Perdebatan di balai desa menghasilkan keputusan. Akulah berikutnya. Gagal panen membuat warga sepakat ini saatnya mengorbankan perawan pada Naga Kolong Nyowo untuk menghentikan bencana. 

Sedari sore warga tegang menunggu kemunculannya di rumahku sembari merapalkan mantra dan menabuh gending. Ibu tak henti menangis dalam bilik. Aku hanya bisa gemetar di atas panggung. Kekasihku memilih tak datang. Jika saja aku memiliki bapak, mungkin ia akan melindungiku.

Ia datang menjelang fajar. Sontak gending terhenti. Ia menghampiriku, mengendus, lalu bergerak secepat kilat ke dalam rumah.

Sejurus kemudian, jeritan dari dalam bilik terdengar. 

--- 


Diikutsertakan dalam #FF100Kata