Showing posts with label #30HariLagukuBercerita. Show all posts
Showing posts with label #30HariLagukuBercerita. Show all posts

Sunday, February 2, 2014

Tentangmu dan Secangkir Kopi Dingin


Dear, Ed...
Tahukah kamu berapa waktu yang kuperlukan untuk mengumpulkan keberanian dan mulai menuliskan balasan suratmu ini? Hampir 24 jam, Ed. Terhitung dari terakhir aku menyesap kopi dan menyeduhnya kembali. 

Ah, seandainya tidak perlu ada awalan untuk segala hal. Betapa sulit untuk memulai berkata-kata kembali setelah sekian lama. Tapi bukankah selalu ada awal untuk segala sesuatu? Seperti halnya pertemuan tak disengaja kita di conveyor belt saat itu, saat jemari kita menggugat koper yang sama. Awal yang membawa pada perbincangan di sebuah kedai kopi, keterpukauan di antara karya seni, perdebatan di depan deretan poster film, dan pertemuan-pertemuan yang selalu meninggalkan lengkung senyum di bibirku sesudahnya.

Tak pernah mudah untuk tidak mengingat hal-hal terkait kamu, Ed. Betapa di antara waktu-waktu aku berusaha melangkah ke depan, aku masih sesekali berpaling ke belakang. Betapa aku masih mengharapkan kamu melangkah masuk ke dalam ruanganku dengan tiba-tiba, sekadar untuk mengecup keningku sebelum kamu sendiri bekerja. Betapa aku masih mengharapkan pesan darimu di pembuka hari, sebuah penyemangat yang dulu tidak pernah alpa kamu lakukan, lalu perlahan menjelma menjadi kealpaan itu sendiri. Dan deretan lagu yang mengiringi perjalanan sesudah pertemuan terakhir kita, tiba-tiba merupa lengking suaramu yang selalu terdengar merdu di gendang telingaku.

Aku rindu caramu menunjukkan kasih padaku, Ed. Aku rindu caramu menunjukkan kasih padaku, dulu.

Tapi kamu telah memutuskan untuk melangkah menjauh dariku, semakin jauh, semakin jauh. Sejujurnya, aku tidak benar-benar memahami apa yang terjadi hari itu. Atau apa yang terjadi sebelum hari itu, atau jauh sebelum hari itu. Kupikir semua yang terjadi di antara kita adalah baik-baik saja. Atau aku yang pada saat itu terlalu naif, Ed, hingga menjadi tidak pandai membaca pertanda. Sampai pada titik akhirnya kamu lelah dan memutuskan meninggalkanku untuk menjalani hidup yang telah kaurancang, tanpa aku di dalamnya.

Aku banyak mendengar tentangmu sesudahnya, Ed. Beberapa asumsi aku tegakkan, dan satu kesimpulan aku kemas. Aku tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Terkadang ketika seseorang ingin melanjutkan hidupnya, kita harus kuat untuk mampu merelakan. Meski aku tak lagi menjadi tokoh utama dalam ceritamu, namun aku bersyukur pernah hadir dalam satu babak hidupmu. 

Bagaimana Tokyo, Ed? Aku harap apa yang kamu lakukan di sana sesuai apa yang kamu impikan. Aku pikir begitu. Baiklah aku akan mengaku, diam-diam aku mencari tahu tentangmu setelah hari itu. 

I miss you, Ed. A lot. Oh by the way, i always love the way you call me Bets. More than you know.


Bandung, 2 Februari 2014 


Bethany

PS:
Kopiku sudah semakin dingin, Ed. Tapi tidak sedingin jemariku saat menulis namamu di undangan ini. Akhirnya nama kita tertulis bersama di bawah kata Wedding. Tapi entahlah, sulit menamakan apa yang saat ini kurasa.

Terhitung 28 hari setelah kuterima suratmu, Ed, hidupku akan memulai babak baru.


--
merupakan balasan dari 



Tuesday, September 25, 2012

KENCAN KETIGA





Ada yang mengatakan bahwa selalu ada permulaan bagi segala sesuatu. Dan ada akhir bagi semua permulaan. Untuk beberapa kasus, akhir bagi sesuatu berarti awal bagi yang lainnya. Begitu seterusnya. Reaksi berantai.

Untuk kisah kita, aku tak benar-benar yakin mana yang menjadi permulaan. Apakah titik itu berawal dari pertemuan kita? Apakah rantai kembali memulai siklusnya pada saat kecelakaan itu memaksa Athina pergi untuk selamanya?  Atau mungkin vonis dokter yang tak memungkinkan rahimku menjadi rumah bagi bayi mungil lainnya? Ataukah keputusan Arion untuk bekerja di luar kota dan meninggalkanku sendiri di sini bersama Ibu yang memicu keinginanku untuk menjalin kisah denganmu?

Entahlah. Satu yang kuyakini kisah kita akan segera dimulai. Aku tak mau memikirkan akhirnya seperti apa. Setidaknya saat ini.

--
Kamu ingat pertama kali kita berkencan? Saat kita malu-malu saling menghindari pandangan yang akhirnya kembali tertuduk pada masing-masing buku yang kita pegang? Atau sedikit aksi curi-curi yang membawa kita kembali mengedarkan pandangan ke hiruk pikuk taman saat tak sengaja bola mata kita saling bertumbukan?

Aku bertaruh, saat itu sama sepertiku, jantungmu berdebar kencang mengalahkan deburan ombak saat laut pasang. Dan semakin menjadi ketika entah darimana kekuatan itu datang, jari jemari kita bersinggungan dan saling erat berpagutan.

“Lihat, betapa bahagianya mereka,” lentik telunjukku membuatmu menoleh pada sekumpulan bocah menggemaskan yang bermain bersama bundanya di taman. Kamu ikut mengamati mereka, sedikit tertawa. Aku mencuri pandangan ke semu pipi merahmu, kamu sungguh memancarkan pesona.

Saat itu aku tahu, kita memeluk mimpi yang sama. 

Athina di surga, aku kembali jatuh cinta.

--
Pertemuan pertama kita tidaklah mudah. Saat aku memergokimu bersandar di dinding sekolah dengan peluh bercucuran dan wajah teramat lelah. Beberapa buku dan majalah berhamburan dari dekapan tanganmu saat aku menyapamu, “Maaf, ada yang bisa aku bantu?” Kamu menggeleng kuat, berusaha keras mengindari untuk memandangku. Berusaha menepiskan gugup, kamu membereskan apa yang tercecer. Buru-buru aku berlari ke dalam ruang kelas, mengambil kantong plastik dan menyodorkan padamu. Kamu mengucapkan terima kasih dengan tetap menunduk dan segera berlalu dengan tiga kakimu.

Sorot matamu yang kutangkap dengan tidak sengaja, adalah hal pertama yang membuat aku jatuh cinta. Nyalang menyiratkan semangat, namun terbungkus kepedihan mendalam. Itulah senjatamu dalam menaklukkan hatiku. Namun kupikir, kamu hanya sosok ingin tahu yang sekadar ingin sejenak melepas dahaga. Hanya itu.

--
Pertemuan kedua kita terjadi tanpa sengaja. Saat aku berteduh dari derasnya hujan di sebuah halte sepulang bekerja. Air yang tegenang membanjiri jalan membuat lalu lintas menjadi tak bersahabat. Dan metro mini tampak enggan untuk menepi meskipun puluhan tangan melambai menawarkan rezeki.

Aku berdesakan entah dengan berapa puluh orang di bawah kanopi. Saat dengan lembut aku merasakan hentakan di tanganku. Spontan aku menepis. Itu kamu.

“Mari ikut aku,” katamu sedikit memerintahku yang sejenak menjelma menjadi seekor kerbau yang dicucuk hidungnya.

Kamu memberikan tempat dudukmu di samping deretan koran dan majalah padaku. Sedang kamu tetap berdiri sambil memegang sebuah buku yang mampu membuat aku terkejut. “Sejarah Tuhan”. Bagaimana mungkin?

“Aku berdiri saja,” kataku dengan gugup.

Kamu hanya memandangku. Pandangan melarang. Dan aku hanya diam.

Arion, aku jatuh cinta lagi.

--
Pertemuan ketiga kita. Pagi hari. Kembali di halte yang sama.

“Boleh kupinjam buku yang kamu baca waktu itu?” tanyaku saat kita berhadapan.

“Akan aku selesaikan sebentar lagi. Anda bisa mengambilnya sepulang bekerja nanti.” Lalu kamu kembali asyik menekuni kegiatanmu. 

Aku tersenyum. “Terima kasih. Sampai nanti.”

Itu adalah salah satu hari terbaikku. Sore nanti aku akan berkencan denganmu.
Ibu, anakmu sedang jatuh cinta.

--
“Kamu yakin, Aretha?” tanya Ibu setelah kencan kedua kita.

“Aku yakin, Bu.”

“Arion?”

“Dia setuju. Setidaknya itu yang ia bilang. Kita lihat saja akhir minggu ini.” Aku tersenyum.
Ibu menghela nafas. Ibu tidak bisa menolak, aku tahu. Semenjak kepergian Athina, aku tak pernah sebahagia ini. Meskipun keseharianku di kelilingi oleh para bocah di tempatku mengajar. Ibu mengangguk.

Kencan kedua kita begitu manis, bukan? Saat kamu tanpa malu membawaku ke tempat tinggalmu yang kau sebut istana. Saat kamu memperkenalkan aku pada ayahmu yang sakit-sakitan. Betapa beliau begitu mengagungkanmu. Betapa kamu adalah pria tangguh yang menjadi pelindungnya. Betapa kamu sukses menjalankan peran sebagai pengganti ayah sekaligus ibu bagi kedua adikmu yang bisa bersekolah dari hasil kerja kerasmu. 

Betapa aku tidak akan menyesal memilih kamu, itu kata hatiku.

--
Aku sudah meyakinkan Arion untuk bertemu kamu. 

“Dia begitu istimewa, Arion. Aku memujanya. Dia cerdas, dia kuat, dia bersahaja, dia mencintai keluarganya. Dia punya cita-cita.”

Arion mengernyitkan dahi. Aku tahu, perkataanku tidak akan mengaburkan pemahamannya bahwa tetap Athina yang berada di pusat kenangan termanisku.

Dia setuju bertemu kamu.

Kencan ketiga begitu istimewa. Aku, kamu, Arion, di sebuah sudut kafe yang hangat di permulaan senja. 

Aku tahu Arion terkejut melihat kamu tidak gugup. Kamu menunjukkan bahwa kamu pria dengan kualitas. Arion jelas menghormati kamu. Kalian berbincang begitu akrab mengenai banyak hal. Kamu tahu bagaimana harus bersikap saat berargumentasi dalam diskusi. Atau saat didepanmu ada makanan menggugah selera yang menanti untuk kau lahap.

Setelah menimbangmu begitu lama, Arion memberi isyarat setuju padaku. Ia tidak pernah main-main dengan keputusannya. Ia memandang ramah padamu dan berkata, “Semua akan kami urus secepatnya.”   

Aku tahu, selangkah lagi kamu milikku. Aku tersenyum.
Lembut aku sentuh tanganmu. Bola matamu yang bisanya tajam kini berkaca-kaca.

“Aku sangat bahagia. Terima kasih…” 

“Bunda… Mulai hari ini kamu bisa panggil aku Bunda, Nak.”

“Dan kamu bisa memanggil aku Ayah,” Arion menepuk pundakmu.

Aku terlalu bahagia. Erat aku memeluk tubuh ringkihmu yang bertopang tongkat. 

Kali ini aku kembali dapat memeluk tubuh kecil yang menangis di dadaku. Ah, bagaimanapun kamu masih bocah, Nak.

Senja kali ini begitu indah. Akhirnya aku dan Arion memiliki anak lagi, setelah kepergian Athina untuk selamanya.

Oh bukan, ini bukan akhir. Ini adalah permulaan.

Let it go, let it roll right off your shoulder
Don?t you know the hardest part is over?
Let it in, let your clarity define you
In the end we will only just remember how it feels

Our lives are made in these small hours
These little wonders, these twists and turns of fate
Time falls away but these small hours
These small hours still remain

Let it slide, let your troubles fall behind you
Let it shine until you feel it all around you
And I don’t mind if it’s me you need to turn to
We’ll get by, it’s the heart that really matters in the end

---
Terinspirasi dari lagu Little Wonders oleh Rob Thomas.