Tuesday, July 2, 2013

Dusky Sorrow : A Poem


http://greigedesign.blogspot.com/


Today confused birds flocking outside her window
Continuosly chirping a dusk chorus of sorrow

Alone in the dimness seems all memories just flow
And once again go away, even her own shadow

Back then, met the apple of her eyes and bowed her pride low
But fiercely in total cruelness he left her in the front row

Oh why did her feeling have to grow?
Oh why did he turn the love song to a broken vow?

She is sad. She needs to cry out loud her mellow
But she just can’t. She hides it out under her pillow

Instead of regrets, happy seeds are that she has to sow
Worry does not for she has a much brighter tomorrow

(Bety Sanjaya, June 2013)
also posted on  http://twimagination.com/v8h2


Friday, May 24, 2013

Super Bangke Rapid “Whatever” Fire Questions



Oke, setelah melalui sepertiga bulan Mei ini dengan jadwal padat merayap padahal sudah nggak musim si Komo lewat, akhirnya dapat jatah istirahat juga di rumah hari Jumat (#HeyItRhymes). Sudah ngebayangin hari ini beneran mau leyeh-leyeh dan mikirin hal yang lebih penting dibandingkan “Kenapa Arya Wiguna gampang banget jadi seleb, Tuhan?”; bikin teori konspirasi dibalik skandal “Sapi Perah”; atau menganalisa kemungkinan Moyes bisa sukses di tahun pertama nanganin MU, yaitu… mikirin siapa yang hari ini bakal di-stalking. (Please, jangan tanya stalking siapa, percayalah ini untuk dunia yang lebih baik). Tsahhhh.

Dan entah mimpi apa aku semalam, sehingga memetwit datang terlambat (Oh, mungkin dia lupa pakai alat kontrasepsi karena nggak ada yang ngingetin semenjak admin akun Durex dipecat) – dalam bentuk mention dari @momo_DM di sini    
(mendadak nginget-nginget lagi alasan dulu follow mamas satu ini) (˘̩̩̩̩ƪ)
Singkat kata, mamas kita bersama ini diberi amanah memilih lima orang super kece untuk menjawab sejumlah pertanyaan (10 pertanyaan wajib dan 5 pertanyaan bonus. Entahlah bonusnya apaan, semoga tiket pp ke Lombok. Aamiin-in aja). Dan demi kasus Eyang Subur yang nggak kelar-kelar, aku dipercaya menjadi salah satu penjawab dengan alasan (jreng-jreng) “biar blognya si Aunty kita bersama ini terupdate” (padahal sih karena emang aku termasuk kriteria orang super kece). Oh well… Jumat memang harus diselamatkan.

So, Mas Mo… melalui prosesi yang sangat panjang dan membutuhkan perenungan berjam-jam, inilah jawabanku. *turun dari kahyangan*

PERTANYAAN WAJIB

1.       Nambah atau ngurangin timbunan buku?
Ini pertanyaannya nggak bisa diganti “nambah buku (nikah) atau ngurangin timbunan lemak?” nih???  Dua-duanya lah. Hidup itu kan harus seimbang. Terus-terusan hirup napas juga nggak baik, kan?

2.       Pinjam atau beli buku?
Beli dong. Minimal usaha cari link download-an. Jangan kayak orang susah deh, ya. *korek-korek celengen semar*

3.       Baca buku atau nonton film?
Apa aja asal sama kamu. Bahkan kalau kamu maunya nonton buku sambil baca film, asal bisa ndusel-nduselan aku rela. *dirajam FPI*

4.       Beli buku online atau offline?
Sorry, kalau nggak terpaksa aku nggak akan beli kucing dalam karung.  Cukup pacaran aja yang online. *hestek LDRunite*

5.       Buku bajakan atau ori?
Jelas buku (yang bikin) or(g)i, dong. Maksudnya Brain Orgasm. Hih, piktor deh!

6.       Gratisan atau diskonan?
Gratisan. Supaya duit aku bisa termanfaatkan buat hal lain yang lebih berguna. Mewujudkan dunia yang lebih baik, misalnya. *dadah-dadah ala miss universe*

7.       Beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Kesabaranku sudah dialokasikan buat nunggu ZMA ngelegalin aku sih, Mas. Tapi kalau sabar dalam damai bisa nambah amalan ibadah, ya aku mau-mau aja. Hu’um.

8.       Buku asing (terjemahan) atau lokal?
Dua-duanya lah. Kalau mau nambah ilmu itu jangan milih-milih. Jangan ngarep sumber pengetahuan yang menyesuaikan diri dengan kita, tapi kitaah yang harus menyesuaikan diri demi meraih pengetahuan sebanyak-banyaknya. *brb les bahasa alay*

9.       Pembatas buku penting atau biasa saja?
Penting. Semua itu harus ada batasan, Mas. Termasuk memiliki batas sampai kapan mau terus ngarepin balikan sama mantan. *kemudian inget draft #Kisah1001Mantan*

10.   Bookmark atau bungkus Chiki?
Makan Chiki sambil baca buku ditemenin Mark Zuckenberg.

---

PERTANYAAN BONUS

1.       Super Junior atau Super Senior? Kenapa?
Karena tambal sulam lebih cocok buat kerajinan tangan, aku pilih produk original. Super Senior.
2.       JKT48 atau Manis Manja Grup? Kenapa?
Nggak dua-duanya, sampai JKT48 berubah menjadi JKT86.
3.       Menulis cerita cinta di blog atau menulis surat cinta untukku? Kenapa?
Menulis masa depan, Mas. Alasannya? Yang pasti-pasti ajalah. YOLO.  *hestek tsah*
4.       Go internesyenel atau go international? Kenapa?
Go international. Karena aku percaya foto di bawah ini berlokasi di Borobudur, bukan di Prambanan. *salim NIC satu-satu*


5.       Goyang itik atau goyang patah-patah? Kenapa?
Sorry, nggak pilih dua-duanya karena nggak ada yang selevel dengan goyang “JARI-JARI!?!” ala Mas Pepeng. 


Dah ya, Mas. Sudah aku jawab semua. Sekarang, mana tjiumnya?

Monday, May 20, 2013

Apa Yang Senja Bawa Petang Ini?


Yang menguar dari tubuh senja kali ini, Tuan,
kerinduan yang sudah kurendam satu purnama.
Lelah berdansa di antara derik dedaunan trembesi
tak jua kau ronakan harapku yang perlahan pasi.

Asal tahu saja, Tuan,
rindu ini bukanlah rindu yang instan.
Telah kuramu cinta mumpuni dalam bumbu
tak jua kau cecap ia dan menyandu.

Ah… tak sadarkah kau, Tuan,
rindu ini bukan rindu tiba-tiba.
Sudah berbulan di depan pintu ia mengetuk
tak jua kau biarkan ia masuk dan memeluk.

Lalu patutkah kupersalahkah ia, Tuan,
ketika petang kembali mengingatkan jiwa yang rindu.
Menggerapai dinding cakrawala yang lembayung
saat tak jua kau jelang ragaku yang huyung.

***

Bety Sanjaya
Mei 2013

Wednesday, April 24, 2013

PRASASTI



*
Sumpah aku ingin waktu berputar. Lalu kau bisa katakan itu sedari awal, Pram. Agar rasanya setara dari sekadar tersenggol kerikil. Tidak semacam ini, serupa kau robek jantungku dengan bedil.
Tanpa Reply.
----
Mataku adalah jangkar. Tertancap begitu dalam pada deretan huruf yang tersusun sahut menyahut di layar telepon pintarku. Setiap aku coba memalingkan tatapan darinya, setiap itu pula tecongkel air dari kantung mata.
Terpekur aku memandang nanar deretan kata terakhir itu. Sampai saat ini mereka tidak berbalas.
Sekali lagi aku menggeserkan trackpad ke arah atas. Kembali membaca sejarah percakapan antara aku dan dia.
Aku lakukan itu dengan terpaksa, Ra. Tolong cermati alasanku. Tak ada yang lebih patut diyakini bahwa akan ada jalannya jika memang bersama adalah takdir kita. Namun jika ini adalah akhirnya, kita harus terima.
Mendadak kepalaku pusing.
Salahkan siapa bila aku akhirnya tergoda untuk membuka kotak Pandora? Patutkah aku menyalahkan mereka yang memutuskan berbondong-bondong pulang kampung pada waktu yang sama? Haruskah aku memaki atasanku yang baru mengeluarkan keputusan dimulainya libur bersama di minus tiga hari raya? Atau mungkin memarahi diri yang tidak cepat-cepat memesan tiket pesawat sehingga terjebak di pelabuhan Merak dalam kendaraan berkapasitas 56 nyawa?
Ah, Tidak. Semua salah. Jawabannya jelas. Aku harus meludahi diriku sendiri yang tidak punya keberanian menghancurkan prasasti kisah dia dan aku. Sehingga akhirnya tergoda mengisi waktu membaca lagi dan lagi percakapan itu.
Aku melirik ke pergelangan tangan. Pukul 8 lebih 24 menit. Matahari sudah beranjak naik sedari tadi. Tapi bis ini belum juga beranjak satu senti pun semenjak berjam yang lalu. 
Aku menoleh ke beberapa wajah yang gelisah. Hingar bingar tangisan anak kecil, umpatan yang sia-sia terhadap antrian kendaraan di pelabuhan yang enggan bergerak, lenguhan kekesalan pemuda yang gadgetnya memutuskan untuk mati suri sejenak. Gemeretak gigi yang mengunyah dan harum makanan yang tak lagi sembunyi-sembunyi keluar dari bungkusnya. Semua godaan ini perlahan membuat perutku mual.
Terutama godaan untuk menjenguk deretan kata yang teruntai dari jariku dan dia. Mereka masih ada di situ. Seperti sebelumnya. Lagi dan lagi mataku mencengkeram setiap huruf yang bersandingan.
“Permisi, mau ikut turun? Sekadar meluruskan kaki. Pegal sekali seluruh badan ini.” Ajakan pria muda yang duduk di sampingku merampas mataku untuk menoleh ke arahnya dengan paksa.
Entah harus berterima kasih atau mengumpat dalam hati atas gangguan yang tiba-tiba, tersenyum aku menjawab. “Terima kasih. Saya tunggu di sini saja,” jawaban sesopan mungkin aku rangkai.
“Baiklah. Saya turun dulu kalau begitu.” Sejurus kemudian ia membalikkan badan. Tampak ragu, ia bertanya, “Hmmm….Maaf, mungkin ada yang mau dititip? Makanan atau minuman mungkin?”
Aku menggeleng. Ia tersenyum, lalu pergi.
Mungkin si pria berpikir aku tidak kuat, sama sepertinya. Dalam keadaan seperti ini kami memang bisa dikategorikan sebagai musafir. Atau tidak? Entahlah.
Pelabuhan Merak benar-benar telah membuatku muak. Namun aku lega. Akhirnya aku sendiri.
Kamu tidak pernah membiarkan aku tahu sebelumnya. Kamu biarkan selama ini aku meraba tanpa tahu apa yang nyata. Jadi akan bagaimana, Pram? Akan bagaimana?
Ya, jadi akan bagaimana?
Aku merasa kacau. Aku benci menafsirkan rajah raut wajah yang membayang dari jendela di sebelahku. Potongan kisah aku dan dia menari-nari di sana. Matahari yang mulai garang membombardir masuk dalam bentuk cahaya. Menyilaukan mata.
Pram, besok aku ke Bandung. Rindu aku? Aku bisa menyempatkan untuk bertemu. Tempat biasa, apakah memungkinkan?
Terjawab.
Mengapa tidak? Aku tunggu. Tempatku saja.
Aku mual. Tanganku gemetar mengusap peluh. Pendingin udara semacam kehilangan kesaktiannya di pelabuhan yang sesak.
Mataku tertumbuk pada benda terbuat dari kulit di pergelangan tanganku. Lama aku meraba penunjuk waktu pemberiannya.
Membawaku kembali ke satu bulan lalu di apartemenku.
”Selain kamu, tak ada yang lebih cocok mengenakan benda ini. Pun aku. Percayalah. Selamat ulang tahun, Sayang.” Jarinya yang halus menyentuh pergelanganku. 
Malam itu ia datang membawa kejutan. Penunjuk waktu. 

“Waktu itu sebenar-benarnya cinta sejati. Ia akan selalu mendampingi. Tidak pernah ingkar karena ia selalu menyertai setiap langkah kamu. Mau kamu melupakan ataupun menghianati pun ia akan tetap ada.”
“Jadi, dia memberikan kamu apa? Jangan bilang menghadiamu cinta. Pasti tidak akan sebesar rasa yang aku punya,” lembut ia menyisir rambutku dengan jarinya.
Apakah ini saat yang tepat untuk aku merangkai kata yang mungkin akan merobek hatinya? Aku ragu. Perlahan aku melepaskan pagutan lengannya dari leherku.
 “Dia akan memberiku hadiah terindah, enam bulan lagi. Lelaki kecil.” 
Entah harus aku sebut apa ekspresinya saat itu. Sedetik kemudian aku bersumpah ingin menghilang untuk selamanya.
Tapi ternyata bukan aku. Melainkan dia.
Marah? Jelas. Menghiba dan bertanya? Ia patut untuk begitu. 
Aku diam. Ia menghilang dari hidupku.
Potongan gambar memudar dari jendela. Si pria muda sudah kembali ke sebelahku. Aroma rokok tercium, tajam menusuk hidung.
Menghindari pembicaraan yang berusaha keras ia rangkai, aku kembali menumbukkan mataku pada layar telepon.
Aku sudah berjuang untuk kamu, Pram. Walau terkadang caraku salah. Tapi apakah kamu sudah berhenti untuk berjuang? Ini menyiksa. Kamu tahu?
Terjawab.
Maafkan aku atas semua ini. Maafkan. Tapi aku bisa apa, Ra? Aku harus memikirkan mereka.
Pengecut kamu, Pram.
Terserah kamu sebut aku apa. Kamu tidak akan percaya. Sulitkan membagi cinta? Jika itu yang kamu tanya, lihatlah diriku sekarang. Kamu tahu apa jawab yang sebenarnya.
Omong kosong!
Tak ada jawaban. Untuk waktu lama.
Jangan sembunyi kamu.
Isi otakku. Bunyi mesin beratus kendaraan yang semerta dihidupkan. Klakson yang berebut menjerit. Lenguhan kepuasan dari sekeliling. Dan sesosok angsa besi yang bersandar dengan malu-malu di dermaga. 
“Akhirnya,” tanpa ragu-ragu si pria muda menepukkan tangan sambil tertawa.
Aku perduli apa? Kembali aku menelusuri rangkaian kata terakhir.
Sumpah aku ingin waktu berputar. Lalu kau bisa katakan itu sedari awal, Pram. Agar rasanya setara dari sekadar tersenggol kerikil. Tidak semacam ini, serupa kau robek jantungku dengan bedil.
Merangkai jawaban yang tertunda sekian lama, tanganku gemetar.
Maaf aku sudah membebani kamu dengan perasaanku yang pernah terungkapkan. Bagaimanapun aku tidak mempermainkan kamu. Aku tahu dengan pasti hatiku. Aku tahu siapa yang pantas aku jatuhi rasa sayang. Setelah kejadian ini, aku terlalu yakin bahwa kita benar-benar bisa menjadi sahabat. Ternyata aku salah. Sikapmu menunjukkan kita tidak bisa. Maafkan aku. Aku pikir inilah akhirnya. Selamat tinggal.
Delievered, dan Read.
Lalu apa yang aku harapkan? Dia menangis menghiba aku untuk memilihnya? Itu sudah ia lakukan. Pada saat itu, aku yang diam.
Kringgg…. 
Teleponku bergetar. Dia.
“Mas Pram, Mas sudah sampai mana? Anakmu sudah rindu. Perlu aku jemput ke pelabuhan Bakau?” lembut suara wanitaku ditimpali jerit si wanita kecil. “Papa… aku dan Mama mau bantuin Eyang bikin ketupat. Papa cepetan kesini.”
Aku tersenyum. Melihat ke arah dermaga. Merayap bis yang aku tumpangi mencoba mencari celah.
“Sabar, Sayang. Sebentar lagi Papa datang. Jaga Mama dan adik bayi untuk Papa, bisa?”
Aku menutup telepon. Istriku dan si wanita kecil baik-baik saja. Pun lelaki kecil yang ada dalam rahim wanitaku. 
Ya. Itu alasanku. Bahwa ternyata cinta pada wanitaku lebih besar.
Kembali membaca histori pesan. Kali ini dia yang tidak menjawab.
Tanpa gemetar tanganku menekan satu tombol. Delete.
Ini saatnya aku hancurkan. 
Maafkan aku Hanggara. Mulai kini tak ada lagi prasasti milik kita.
*

Friday, April 19, 2013

SEGEL


Kerap, berita buruk tidak mengetuk pintu atau mengintip melalui jendela sebelum masuk.
Dengan kurang ajarnya ia akan duduk manis di sofa, meninggalkan bau tak sedap yang mungkin akan menghabiskan 7x24 jam bagimu untuk menghilangkan aromanya.

Seperti hari ini. Dengan angkuhnya ia menerobos masuk ke dalam tempat perlindunganmu. Disaat kamu sibuk menata impian dan rencana indah.

Kamu terlonjak dari tempatmu duduk. Apa yang ada di benak mendadak berhamburan. Tak sempat kamu menghalau mereka kembali masuk ke dalam kepala.

"Duduklah, akan aku sampaikan sesuatu padamu. Sebelum itu, segelas kopi tentu akan melapangkan kerongkonganku." Terkekeh ia menuntun kukunya yang panjang tajam menyusuri batang kerongkongan. Bunyi berdecit menghentak sadarmu.

Bak kerbau dicocok hidung, jemarimu mengangsurkan kopi dalam gelas kesayangan. Jemari yang menghianatimu itu adalah jemari yang sebelumnya telah menakar kopi tidak terlalu manis dengan sempurna. Kesukaanmu, kamu hidangkan si hitam kesukaanmu pada dia yang kehadirannya tak kamu sangka. Lalu kamu terpana melihatnya meneguk rakus setiap tetes. Untukmu, sama sekali tak bersisa.

Dia mencecap nikmat.
Jantungmu berdetak.
Dia menyadari kamu yang termangu menunggu.

"Begini," lamat-lamat dia berbicara. Seringai, itu yang kamu lihat menari di matanya. "Kopimu sedap. Tapi apa yang akan kusampaikan padamu tidak. Maka lebih baik kau duduk di sampingku."

Lagi-lagi kamu adalah kerbau.

Dia sampaikan apa yang harus dia sampaikan dengan bahagia. Gelak tawa terdengar sampai keluar, mengundang tanya para tetangga yang keheranan. Karena gelaknya tertimpali isak yang tak bisa kau tahan, bersahut dengan jeritan. Mereka mungkin bertanya-tanya, mengapa kamu dengan bodohnya menyambut berita suka cita dengan duka. 

Ada jeda yang cukup lama.
Kamu tak lagi ingat ke arah mana isi kepalamu berhamburan.
Sekarang bukan itu yang menjadi masalahmu. Karena kamu adalah pencipta mimpi dan harap. Semudah itu melahirkan mereka, semudah bagimu menakar kopi yang sempurna.

Untuk kedua kalinya kamu tersadar.
Setelah itu, sisa hari kamu habiskan dengan mencari cara untuk menyegel pintu dan jendela. Dan menutup semua celah di pada apa yang kau sebut rumah.

Tak kamu hiraukan suara ketukan sesudahnya. 
Sekarang giliran kamu menyeringai, merayakan kemenangan dan bersiap kembali menata impian bahagia.

Tapi kamu lupa, kabar buruk sudah duduk manis di sofa dan meninggalkan aroma. 

Sementara kabar baik tertahan di luar sana, tak kamu beri kesempatan melewati pintu dan mengintip melalui jendela.