Monday, June 18, 2012

RIAK DALAM BIRU


Pantai Pangandaran, Jawa Barat


Aku paling merindukan Biru di musim penghujan, saat dingin menusuk menyelinap melalui celah-celah di sekitar jendela dan angin membuat ribuan daun kelapa mengerang kesakitan. Selimut tipis tidak mampu menghalangi tubuhku dari menggigil yang sangat. Tangisan sedih burung camar di sepanjang pantai mewakili gema kekosongan hatiku hampir di setiap malam semenjak hari itu.

Biru telah pergi hampir dua tahun. Aku percaya saat ini ia mungkin sedang tertidur damai di sisi perahu nelayannya, tempat ia menghilang. Itu hukuman, kata penduduk kampung. Ia tumbal dari dewa laut. Ah, omong kosong apa lagi yang mesti aku dengar?

Semenjak Biru menghilang, aku kerap bermimpi tentangnya. Memanggil-manggil, dalam desahan angin bercampur debur ombak. Terkadang terdengar seperti teriakan dari laut terdalam, seakan teredam oleh jarak yang sangat besar.

Malam ini bayangan dirinya datang lagi. Dengan tubuh yang membengkak dan memar, terdampar di putihnya pasir pesisir. Kulit putihnya semakin pucat, sekujur tubuhnya terlilit rumput laut yang tampak licin. Matanya kosong, menatapku nanar. Sakit, katanya. Dan akhirnya ia memudar, menyisakan kesesakan yang berupa ampas amis. Membuatku mual.

Lalu tubuhku semakin menggigil.

---

Aku jatuh cinta pada Biru. Dan aku percaya ia pun begitu. 

Kami bahagia. Kami berkecukupan.
Kami memeroleh harta tak ternilai di kehidupan kami. Si lelaki kecil.
Namun lambat laun hidup semakin sulit. Dan kami hanya mampu mengganjal perut lelaki kecil dengan makanan seadanya.

Biru merasa tak berguna. Biru merasa gagal. Ia merasa tak lagi mampu melindungi dua detakan jantungnya. Bodohnya dia untuk setiap perasaan tak berguna yang ia pupuk semakin lama, semakin membuncah. Akhirnya....Setiap memar yang terpatri di kulitku oleh tangannya adalah tanda betapa ia mencintaiku. Dan setiap diamku adalah tanda betapa aku mencintainya.

Ia lelaki laut. Ia keras. Ia tangguh. 
Ia hidupku. Aku dan lelaki kecil adalah alasannya untuk berjuang hampir setiap malam. Dia dan lelaki kecil adalah alasanku menangis ketika hasil kerja kerasnya tidak menghasilkan.

Hidup di laut berat. Jika saja Neptunus lebih bersahabat dengannya. Maka ia akan menjadi lelaki sempurna. Dan aku memilih agar ia tetap begitu, dalam separuh diriku yang mempercayainya dan demi mata bulat si lelaki kecil saat mendengar cerita betapa hebat bapaknya.

Di malam-malam panjang yang kami lalui tanpa Biru, aku mendongeng tentang Biru pada lelaki kecil. “Bapakmu nelayan hebat, Nak. Ia telah menjelajahi palung terdalam dan ombak tertinggi. Namun pada satu titik, dewa laut ternyata lebih hebat darinya.” Lalu setelah si lelaki kecil lelap tertidur oleh dongengku, aku berbisik, “Dan ibumu jauh lebih hebat.  

Lelaki kecil tidak tahu, di malam sendiriku aku melolongkan tangis membelah malam. Kembali aku mengingat pagi buta saat aku membolongi perahu. Oh, betapa aku jatuh hati pada bapakmu, Nak. Kelu aku membelai tubuh mungil anakku dan melagukan kidung bagi Biru.

Come up to meet you
Tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you
Tell you I need you
Tell you I set you apart
Tell me your secrets
And ask me your questions
Oh let's go back to the start
Running in circles
Calling tails
Heads on a silence apart

Perlahan pipiku basah oleh bulir air yang meluncur deras dari kantong mata.Aku pikir aku bisa lebih mencintai Biru saat ia telah tiada. Namun aku salah. Dan aku bersumpah, kini aku semakin merindui lelakiku.

If the sea were bunch of tears and swelled every day.
The waves couldn't wash my heartache away.

Skies always seemed sunny when you were here.
Now there's nothing but gloom in my atmosphere.

You're still on my memory, my love for you never die.
But it hurts to the bone that I lost you in eyes.

You were my everything, but now you're gone.
I’m about to break, i don't have the strength to carry on.

I miss you so much, for you were all that I had.
Now my whole world is painted black, depressing and sad.

My heart just like the sea, the sky, and your lovely eyes.
Since you left it turned blue, freezed, broken aparts.

Precious one, i'd like to start feeling other than blue.
But you were my whole world, now what can I do?

(bety oktarina)

---
Sebuah interpretasi dari The Scientist-Coldplay

10 comments:

  1. Air liurku menetes membaca karya kabet dengan kata-kata yang tersusun sangat cantik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahh, cantikan mana sama wajahku? #eeaa Makasih Muizz :)

      Delete
  2. Aku setuju sama Muiz..
    Bahasanya cantik ;)

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Kelinking di handap, haha. Hatur nuhun :))

      Delete
  4. Replies
    1. Mungkin efek kegalauan akut? tq for reading Tan :)))

      Delete
  5. puitis" manis gimanaaa gitu.. bacanya jadi ikut mengalir seperti air laut pangandaran.. #komen yang maksa.. hahahaha..

    ReplyDelete