Tuesday, June 12, 2012

MENUNGGU LAMPU HIJAU




5 Juni 2011.

“Jadi aku tidak perlu meragukan kesungguhanmu, bukan?” Mata bulatnya memandang tajam ke arahku. Menusuk, dengan cara yang begitu menggoda. Dengan tatapan semacam itu, siapapun tidak akan mampu berdusta. Terlebih aku. Seorang Ksatria yang rela melakukan apa saja untuk membuktikan kesetiaan. 

Dadaku sedikit sesak. Seakan tembok bangunan ini perlahan bergerak menghimpit. Aku tahu ini godaan. Aku tidak boleh mundur.
“Kamu tahu, ketika aku mengatakan bahwa akan aku lakukan, maka itu sebenar-benarnya kenyataan.” Sekuat tenaga aku menahan untuk tidak menelan ludah atau mengeluarkan keringat dingin. Pelahan aku memainkan telepon selular untuk menyamarkan getaran tubuhku yang mulai menjalar ke tangan.

“Aku tahu. Tak seharusnya aku mempertanyakan kesungguhanmu.” Ia tersenyum, selaksa malaikat. “Kamu harus pergi, sebentar lagi ada rapat pimpinan. Nanti aku kabari lagi, oke?” Dengan anggun ia berlalu dari hadapanku.


*

Kharismanya begitu luar biasa. Dia, Zora. Dia yang mampu merubah aku dari orang lemah menjadi kuat. Dia mampu membuat aku yang semula hanya berpikir hari ini makan apa menjadi seorang filsuf yang memikirkan tentang hakikat keberadaanku di dunia.

Jadi sudah diputuskan. Semalam akhirnya keteguhan hatiku mendapat lampu hijau dari Zora. Saat ini adalah pembuktiaannya.Tak ada yang mampu menghalangiku.

Aku memilih baju terbaikku. Zora selalu suka warna putih. tubuhku sudah bersih dan wangi. Sedikit semprotan parfum dan gel pada rambut akan membuat penampilanku lebih istimewa. Zora akan bangga padaku.

Aku melirik tas selempang hitam berbahan kanvas pemberian Zora tadi malam. Aku tersenyum, merabanya, dan merasakan aroma tubuh Zora yang tertinggal di sana. Aku tidak boleh melupakan tas ini. Dengan penuh mesra aku melirik lagi isi tas, dan perlahan menyelempangkan di pundakku. Satu buket bunga Angrek putih yang telah kusiapkan untuknya tak lupa kubawa.

Dengan langkah tegap aku menuju tempat yang ditunjuk oleh Zora. Dari kejauhan bangunan ini sudah terlihat. Besar, megah, siap berdentang. Jam Gadang.

Waktunya masih lama. Dengan santai aku melewati kerumunan orang yang menyemut demi menikmati momen dimulainya Tour de Singkarak 2011

Di ujung taman mataku tertumbuk pada sosoknya. Zora melambaikan tangan, bak magnet memaksaku mendekat.Ia berdiri di samping mobil mewah berwarna hitam. Beberapa orang yang kukenal ada di dalam mobil. Aku menganggukkan kepala ke arah mereka sambil memberikan salam.

“Aku siap,” kataku dengan sumringah.

“Kamu tampan,” jawabnya. Membuat tubuhku melayang.

Aku perlahan menjulurkan buket bunga yang telah kusiapkan kepadanya. Aku tak perduli pada orang-orang yang memandang sambil tersenyum ke arah kami.

“Kenapa mendadak sentimentil?” Zora tertawa.

“Maaf, kamu tidak suka?” hampir aku menarik tanganku kembali.

“Haha, kamu bercanda. Tentu saja aku suka.” Ia mengambil buket dari tangaku. “Terima kasih. Ini hadiah yang indah. Pergilah, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Ksatria.”

Aku menatap lama wajahnya. Ingin mengukir semua tentangnya dengan sempurna. Tapi pandangan Zora memaksaku untuk menyudahi.

Aku melangkah ke tempat yang ditentukan. Keramaian ini sungguh menolongku. Aku luput dari perhatian.

Perlahan aku menaiki bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini. Berkali-kali aku menarik nafas untuk meredakan ketegangan yang sangat. Aku pasti bisa.

Aku melihat ke arah jalan di seberang jam Gadang. Para pembalap sudah siaga. Ini saatnya. Aku membayangkan bahwa esok, 7 Juni 2011, kisah kesetiaan seorang Ksatria menghiasi headline surat kabar. Zora pasti bangga padaku.

Aku membuka tas dan mengeluarkan benda pemberian Zora. Tepat saat chequered flag dikibarkan dan lampu hijau menyala, aku memencet tombol yang berdetak.

Kemudian yang kudengar hanya suara memekakkan telinga, ditimpali jerit yang menyakitkan.

Tubuhku semakin ringan. 
Aku melihat di kejauhan.Tidak ada senyum bangga Zora di sana.

Yang kulihat hanya satu buket Anggrek yang teronggok di jalan. Dan sebuah mobil hitam yang menghempaskan puing-puing ledakan.

Aku terduduk gemetar. Aku menangis. Tuhan, apakah aku sudah melakukan kesalahan? 

*

now playing "One Day" by Matisyahu 

Sometimes in my tears I drown
But I never let it get me down
So when negativity surrounds
I know someday it'll all turn around because

All my life I been waitin' for
I been prayin' for, for the people to say
That we don't want to fight no more
They'll be no more wars
And our children will play, one day

One day this all will change
Treat people the same
Stop with the violence down with the hate
One day we'll all be free and proud
To be under the same sun
Singing songs of freedom like


*

13 comments:

  1. AAKKK Bety... aku merinding baca endingnya :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh merinding boleh, tapi jangan pingsan. hehe, thanks for reading. :)

      Delete
  2. keliatan nih penggemar balap-balapan. hihihi..

    ReplyDelete
  3. iyah, Wen... tapi sayangnya selalu kesalip jodohnya (Lah, malah curcol). Tq for reading :)

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. tq for reading, Tantri... Uhmm iya menyedihkan, tapi menyedihkan bagi siapa? :)))

      Delete
    2. Aku sebagai pembaca ikut merasakan kesedihannya kok. Hehe..

      Delete
  5. Kakak yang satu ini kayaknya cocok banget jadi penulis romance, apalagi dibumbui poem-poemnya yang jleb itu.. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, Muiz ini memang bisa bikin aku "melayang" haha. Btw ini bukan romance murni lho, Muiz.

      Delete
  6. Replies
    1. Terima kasih sudah mampir juga. Kapan2 harus meet up :)))

      Delete
  7. eh eh ini ceritanya dia lagi apa ya? kok kyknya bukan balapan. knp naik ke dalam menara jam??? jangan2.........

    btw, very nice kak Bet. Kak Bet emg pujangga deh, hehe
    *sory lebay dikit* tp emg bagus. aku suka nie yg bikin penasaran bgini. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Anis. Ah, kamu berlebihan. Tapi memang ini cerita sengaja bikin penasaran. Hayoo siapa yg bisa nebak dia lagi apa dan bagaimana akhirnya? Setting waktu bisa jd clue.:)))

      Delete