Tuesday, February 7, 2012

#DAY 25 "EKA, AKU (JUGA) INGIN MENIKAH"



Teruntuk: @ekaotto

Hai eka, sama sepertimu, Aku (Juga) Ingin Menikah.
Sama sepertimu, aku ingin menulis surat yang menyatakan (betapa saat ini) Aku Ingin Menikah. Bedanya aku tidak menujukan surat tersebut untuk Papa. Kenapa? Karena memang beliau dan juga Mama sebenarnya sudah mengharapkan aku untuk menikah, jauh bertahun sebelum hari ini ada. Jadi seharusnya yang lebih tepat adalah AKU HARUS MENIKAH, bagi mereka. Mungkin pada akhirnya surat ini aku tujukan untuk diriku sendiri. Dan juga para wanita lainnya yang saat ini berpikir, atau belum, untuk menikah suatu hari ini. Dan juga untukmu, untuk membuktikan, bahwa kamu tidak sendiri.

Eka,
Kamu tahu suratmu itu teramat sangat mewakili kata hati banyak wanita. Dengan untaian kata yang teramat manis, kamu bahkan membuatnya lebih istimewa. Ah, jika waktu itu benar-benar tiba, aku berani bertaruh pasti kamu akan sangat teramat bahagia, begitu juga orang-orang yang menyayangimu, baik yang engkau kenal maupun tidak, seperti aku. Semoga secepatnya. Semoga bahagia. Semoga untuk selamanya.

Eka,
Sejujurnya aku memilih  untuk membalas suratmu, merupakan keruntuhan ego buatku. Ya, tanpa sadar selama ini aku bertahan begitu kuatnya menolak kenyataan bahwa pada satu titik aku harus berani membangun komitmen serius yang bernama Pernikahan. Bukannya trauma atau apa. Boleh dikata aku seorang observer yang kuat, yang cukup banyak melihat kegetiran dalam kehidupan romansa orang lain. Dan kombinasi kecemasan bahwa semuanya tidak berjalan lancar dan ketakutan untuk gagal membuat aku dengan lantangnya berkata, “AKU AKAN BAIK-BAIK SAJA TANPA PRIA”. Dan semua keberhasilanku untuk berdiri sendiri semakin menguatkan pemikiran, bahwa untuk menjadi sukses dan bahagia bisa aku lakukan sendiri dan cukup dengan dukungan keluarga. Tapi Eka, dalam perenungan di malam panjangku aku kerap berpikir, bukan, bukan itu tujuan Tuhan menciptakan aku ke dunia. Untuk menjadi orang yang egois dan merasa cukup dengan aku sendiri saja. Bukan. Aku harus berguna, untuk orang lainnya.

Ya Eka,
Aku harus memikirkan orangtuaku. Mereka begitu khawatirnya dengan kemandirianku sampai mereka bertanya, apakah benar aku tidak punya keinginan berkeluarga. Aku tertawa. Ya, tentu saja aku bilang aku mau. Tapi pada saat itu hanya untuk menenangkan hati mereka. Wajarkah kekhawatiran mereka, jika aku baru mengenal pria di usia mendekati kepala tiga? Ya, tentu saja. Dan aku merasa berdosa sudah membuat mereka sebegitu cemasnya.

Aku akui, Eka. Ya, pada satu titik aku butuh pria. Bukan, bukan hanya untuk pemuas nafsu belaka. Ya, aku butuh pria untuk bersama-sama belajar memaknai apa tujuan kami hidup di dunia. Ternyata pria bisa menjadi guru kehidupan yang sangat baik, ia juga bisa menjadi sahabat, ia bisa menjadi saudara, ia bahkan bisa menjadi sekedar ada untuk mendengarkan aku bercerita.

Ya Eka, (sekarang) Aku Ingin Menikah.
Aku ingin ada yang memperkenalkanku sebagai pendamping hidupnya di dunia dan akhirat.
Aku ingin ada yang mengingatkanku ketika aku menjadi seorang individu egois yang merasa mampu melakukan semuanya sendiri, bahwa (kadang) berdua itu lebih baik.
Aku ingin ada yang mendengarkan keluh kesahku. Ya, hanya mendengarkan pun sudah cukup bagiku. Tidak perlu ia memelukku, tidak perlu ia menepuk pundakku. Hanya sekedar ada, dengan cintanya. Itu sudah cukup.
Aku ingin memiliki seseorang yang punya waktu, sama sepertiku. Waktu untuk mencintai dan menyayangi tanpa jeda, waktu untuk belajar mengenai arti hidup bersama-sama, waktu untuk saling menatap antara mata dengan mata dan melukiskan semua kisah yang terjadi antara kami di penghujung hari. Aku ingin seseorang yang punya waktu sampai penghujung waktu memisahkan kami.


Di atas semua itu, Eka.
Aku ingin hidupku menjadi lebih berarti. Untuk keluarga. Keluargaku sendiri.
Aku ingin menjadi wanita seutuhnya. Yang pada satu saat seorang pria rela melakukan hal terbodoh dalam hidupnya di bawah rintik hujan hanya untuk mengungkapkan perasaan cintanya padaku. Dan tiba saat dengan gagahnya ia memintaku kepada kedua orangtuaku. Bahwa ia akan menggantikan tanggung jawab mereka untuk selalu mengasihi dan menjagaku.
Aku ingin sekali melihat kedua orangtuaku meneteskan airmata. Airmata bahagia mereka di hari bersatunya kami. Dengan bangga menyatakan bahwa pilihan anaknya tidak salah.
Aku ingin setahun, dua tahun, tiga tahun kemudian memiliki buah hati sebagai bentuk sucinya cinta kami.
Aku ingin merasakan perjuangan yang dilakukan Mamaku berpuluh tahun lalu. Perjuangan yang membuktikan bahwa bukan tanpa alasan Tuhan menciptakan wanita di dunia, dengan menaruh surga di telapak kakinya.
Aku ingin ada seorang mahluk kecil yang merengek-rengek meminta air susuku, dan bertahun kemudian dengan suara menggemaskan bercerita betapa ia bangga memiliki aku sebagai Mamanya di muka kelas, di depan teman-temannya.
Aku ingin mendampingi anakku memilih busana pernikahannya sendiri. Aku ingin merasakan repotnya mengatur segala hal di hari paling bahagia baginya. Aku ingin merasakan kebahagiaan Mama dan Papa, sama seperti yang mereka rasakan di hari pernikahanku kelak.
Aku ingin bermain bersama cucuku, Eka. Ya aku ingin sekedar mengajarkan bagaimana cara mengganti popok atau memandikan mahluk kecil itu kepada anakku.
Aku ingin, ada sekelompok orang yang akan setia menemaniku di masa tua. Sampai aku menutup mata. Mereka yang bisa dengan kasih dan cinta aku sebut keluarga.
Dan aku ingin, pada saat itu tiba, aku tidak lagi menyesali keputusan bahwa memang pada akhirnya aku harus menikah. Dengan pria, yang bisa aku sebut sebagai @imamnyabetyoktarina dengan bangga.


Ya, Eka. Sama sepertimu AKU INGIN MENIKAH.
Jika waktu itu datang, maukah kamu menghadirinya dan memberikan doa?
Maukah kamu membacakan surat ini di hadapan orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku?
Dan bersama kita menertawakan, bahwa tidak ada, ya tidak ada ruginya untuk berteriak lantang............... "AKU INGIN MENIKAH".
Maukah kau, Eka yang jelita?

No comments:

Post a Comment